PKS vs LSI

6 April 2009 pukul 11:16 AM | Ditulis dalam 1 | Tinggalkan komentar

Jakarta – Peluh telah mengucur, membasahi sekujur tubuh petinggi PKS, tapi elektabilitas mereka masih dipandang rendah lembaga survei. Padahal, tak sekali-dua, hasil survei berbanding terbalik dengan fakta lapangan. Mereka pun gerah!

Penelitian Lembaga Survei Indonesia (LSI) seakan memicingkan mata terhadap kerja keras warga PKS. Dalam survei terakhirnya, 31 Maret-1 April, LSI memperhitungkan PKS hanya akan meraih 4,9% suara pada Pemilu mendatang. PKS memang masih berada di lima besar, tapi perolehan suaranya melorot dibandingkan Pemilu 2004 lalu yang 8,35%.

Dan, seakan hendak ‘mencibir’ PKS, LSI pun menyimpulkan, partai yang bermarkas di Mampang itu pun gagal merayu pendukung Susilo Bambang Yudhoyono. Padahal, dalam berbagai kampanyenya, PKS mencoba merayu publik dengan mendukung SBY. Brbagai spanduk bertuliskan ‘PKS Partaiku, SBY Presidenku’ pun masih bertebaran di hari-hari terakhir kampanye terbuka.

Peneliti LSI, Burhanuddin Muhtadi, menegaskan manuver PKS menjual SBY adalah bentuk kepanikan partai tersebut karena elektabilitasnya yang tak juga naik. “Ini adalah ijtihad politik PKS untuk menaikan suara mereka. Di sini ada kepanikan dalam diri PKS karena suaranya tidak cukup naik,” katanya.

Toh, PKS tak ambil pusing dengan hasil survei LSI. PKS, sejauh ini, memang mengambil sikap tak terlalu percaya dengan hasil survei lembaga manapun, terutama LSI. Kecuali pada beberapa survei, fakta akhirnya ternyata keliru, saat ini juga muncul keraguan yang mendalam soal independen lembaga-lembaga survei.

LSI pun beberapa kali keliru memposisikan PKS berdasarkan hasil survei mereka. Ini memicu keraguan banyak pihak, utamanya PKS, soal kesahihan hasil survei tersebut. Apalagi, belakangan terbukti, sejumlah lembaga survei ternyata mendapat sumber dana dari partai politik.

Tengoklah pada Pemilu 2004 lalu. Saat itu, LSI memprediksi PKS meraih suara sekitar 2,1-2,7%. Dengan angka itu, begitu LSI, PKS takkan lolos electoral treshold. Fakta di lapangan? PKS memperoleh 8,35% suara.

Cukup? Jika belum, ini: pada Pilkada Jawa Barat lalu, LSI pun memicingkan mata terhadap pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf yang diusung PKS. Perhitungan mereka, kalau bukan Danny Setiawan, maka gubernur Jabar berikutnya adalah Agum Gumelar. Faktanya, Gedung Sate kini dipimpin Herry-Dede.

Itulah sebabnya, PKS tak peduli lagi terhadap hasil survei LSI. Ketua Majelis Syura PKS, Hilmi Aminuddin menegaskan partainya tak terpengaruh dengan hasil survei berbagai lembaga itu.

“Survei macamnya banyak. Kepala orang berbeda-beda. Jadi kita bergerak sesuai kader. Direct selling. Tidak mengandalkan survei,” jelas Hilmi.

Sikap semacam ini bukan kali ini saja diperlihatkan PKS. Mantan Presiden PKS, Hidayat Nur Wahid, bahkan pernah menyindir bahwa lembaga survei bukanlah Tuhan yang bisa menentukan segalanya. Saat itu, LSI pun menyebutkan PKS hanya berada di urutan kedua soal parpol terbersih, di bawah Partai Demokrat. Padahal, belakangan mencuat, sejumlah anggota Partai Demokrat terindikasi terlibat perkara korupsi.

“Lembaga survei bukanlah Tuhan sehingga harus disembah. Mereka juga bukan hantu yang perlu ditakuti,” kata Nur Wahid.

Sekjen PKS, Anis Matta pun pernah menuding berbagai survei LSI menyesatkan. LSI hanya menempatkan PKS sebagai parpol papan tengah. Padahal, dalam berbagai survei internal yang dilakukan PKS, di banyak daerah mereka masuk dalam posisi tiga besar

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: