Sampaikan Bantuan Anda !!..

31 Mei 2010 pukul 2:00 PM | Ditulis dalam 1, Download, Hadist Pilihan, Nashaihul Ibad, Tarbiyah, Tokoh Islam | Tinggalkan komentar

Salurkan Bantuan Anda !! ...

Saat  dunia kembali diam kepada Israel … apa tindakan kita .. ??? …

Iklan

Inilah Senjata Baru yang Digunakan Al-Qassam Pada Perang Gaza

8 Januari 2010 pukul 3:16 PM | Ditulis dalam 1, Download, Hadist Pilihan, Nashaihul Ibad, Tarbiyah, Tokoh Islam | Tinggalkan komentar

Sayap militer gerakan perlawan Islam Hamas – Brigade Izzuddin Al-Qassam untuk pertama kalinya mengungkapkan secara terbuka senjata-senjata yang mereka pakai selama agresi Israel ke jalur Gaza yang membuat Israel terkejut oleh serangan dari mujahidin Al-Qassam.

Brigade Al-Qassam mengatakan bahwa mereka telah memperkenalkan tiga jenis senjata baru anti tank dan instalasi persenjataan selama perang di Gaza setahun yang lalu dan mereka juga memperlihatkan foto-foto senjata baru mereka tersebut dan kapan senjata-senjata itu digunakan sewaktu melawan serangan Israel.

Situs resmi Brigade Al-Qassam pada hari Kamis kemarin (7/1) menyatakan: “Brigade Al-Qassam telah berhasil menciptakan keseimbangan teror yang dilakukan oleh Zionis Israel dan telah membuat tentara-tentara pendudukan terkejut serta tidak menyangka dan bingung terhadap perhitungan militer mereka dan membuat para pemimpin Zionis beserta para prajurit mereka masuk ke dalam lumpur di Gaza.”

Dan inilah senjata-senjata baru yang secara resmi digunakan oleh brigade Al-Qassam untuk melawan Israel dalam agresi mereka ke Gaza:

“RPG-29” anti Tank:

Senjata ini digunakan untuk pertama kalinya di jalur Gaza pada jam 11 siang, hari Ahad tanggal 8 Muharram 1430 H bertepatan dengan tanggal 4 Januari 2009, ditembakkan ke tank-tank zionis di distrik timur Gaza dan mengakibatkan kehancuran total tank Israel.

“Mortir Tandem” anti kendaraan lapis baja:

Pertama kali digunakan di jalur Gaza pada jam 10.30 pagi hari Senin, tanggal 9 Muharram 1430 H bertepatan dengan tanggal 5 Januari 2009, ditembakkan ke arah pengangkut personel tentara Israel berupa kendaraan lapis baja sewaktu pasukan Israel berusaha masuk ke wilayah timur Jabaliya, mengakibatkan kehancuran total.

“Roket 107-mm” anti-fasilitas perang:

Pertama kali digunakan dalam pertempuran di jalur Gaza pada jam 12 siang hari Selasa, tanggal 16 Muharram 1430 H bertepatan dengan tanggal 13 Januari 2009, ditembakkan ke sebuah rumah yang dijadikan benteng oleh pasukan Zionis – dimana pada waktu itu terjadi bentrokan antara pasukan khusus Israel di sebelah timur wilayah Khan Younis.(fq/imo/qs)

maroji : eramuslimdotcom

Cara Shalat Jenazah Menurut Rasulullah saw.

19 Desember 2009 pukul 9:01 AM | Ditulis dalam 1, Hadist Pilihan, Nashaihul Ibad, Tarbiyah, Tokoh Islam | Tinggalkan komentar
Assalamualaikum.wr.wbBapak ustd Sigit yang di Rahmati Allah SWT,disini ane ingin sekali mengetahui lebih dalam tentang tata cara mengurus jenazah sampai mengkuburkannya,adapun tambahan pertanyaan ane adalah:

1.Apakah Rosulullah SAW,dalam mensholatkan Jenazah pada saat takbir pertama Beliau mengangkat kedua tangannya dan setelah takbir kedua sampai ke empat/terakhir beliau hanya mengucapkan takbir saja tanpa mengangkat kedua tangannya.

2.Pada saat imam selesai mensholatkan jenazah,apakah harus imam mendoakan jenazah dengan mengeraskan suara agar terdengar oleh makmum untuk di amin kan.

3.Doa untuk jenazah.

Demikian pertanyaan ane ustd,afwan kalau ada kata-kata/pertanyaan yg kurang pas

Wasslamualaikum.wr.wb

Firmansyah

Firmansyah

Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb Continue Reading Cara Shalat Jenazah Menurut Rasulullah saw….

Keadaan Iblis di Neraka

19 Desember 2009 pukul 8:56 AM | Ditulis dalam 1, Hadist Pilihan, Nashaihul Ibad, Tarbiyah, Tokoh Islam | 3 Komentar
AssalamualaikumUstadz yang dirahmati Allah,

Saya mau bertanya, jika iblis diciptakan dari api, lalu mengapa dia juga ditempatkan di neraka yang terbuat dari api yang panas?

Jazakumullah ustadz atas jawabannya

Gustri Eni Putri

Jawaban

Continue Reading Keadaan Iblis di Neraka…

Terbuka !! .. OPEN Casting Pemain Dalam Mihrab Cinta

5 Desember 2009 pukul 2:06 AM | Ditulis dalam 1, Download, Hadist Pilihan, Nashaihul Ibad, Tarbiyah | 3 Komentar
Poster Open Casting

Poster Open Casting

Perbedaan Jin, Iblis dan Setan

30 November 2009 pukul 11:25 PM | Ditulis dalam 1, Download, Hadist Pilihan, Nashaihul Ibad, Tarbiyah, Tokoh Islam | Tinggalkan komentar

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Bapak ustad Sigit yang dirahmati Allah SWT,Saya mau bertanya apa perbedaan antara Jin,Iblis dan syaitan.Bagaimana pula dengan penciptaan jin,karena setahu saya Allah SWT hanya menciptakan Malaikat,Iblis dan manusia.Sekian pertanyaan dari saya,atas jawabanya saya ucapkan terima kasih. Wassalam

Adi Setiawan

Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb

Saudara Adi yang dimuliakan Allah swt Continue Reading Perbedaan Jin, Iblis dan Setan…

Asal Kata “Nasrani”

9 September 2009 pukul 2:42 PM | Ditulis dalam 1, Download, Hadist Pilihan, Nashaihul Ibad, Tarbiyah, Tokoh Islam | Tinggalkan komentar

Ketika Isa AS diutus, diwajibkan kepada Bani israil untuk mengikutinya serta tunduk dan patuh kepadanya. Para sahabat dan pemeluk agama yang dibawa oleh Nabi Isa AS disebut Nashara. Disebut Nashara karena diantara mereka terjalin sikap saling tolong menolong. Mereka juga disebut Anshar sebagaimana Isa AS mengatakan “man anshori ilallah Qola al hawariyyuna nahnu anshoorullah” Siapakah yang akan menjadi Anshari (penolong penolongku) untuk (menengakan) Agama Allah ? para Hawariyyun (sahabat sahabat setia) menjawab, ‘Kamilah Anshar (penolong penolong) Agama Allah (QS. Ali Imran 52)

Adapula yang mengatakan, “Disebut demikian karena mereka mendiami suatu tempat atau daerah yang bernama Nashirah” pendapat ini diungkapkan oleh Qatadah dan Ibnu Juraij, serta diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Ra. Wallahu’alam

Mohon menuliskan Sumber web ini jika anda ingin mengcopy yah 🙂

Sumber Gado gado Islam (website lain abiwin.wordpress.com / pksonline.co.cc)

Asal Kata “Yahudi”

9 September 2009 pukul 2:40 PM | Ditulis dalam 1, Download, Hadist Pilihan, Nashaihul Ibad, Tarbiyah, Tokoh Islam | 1 Komentar

Ikhwan wa Alhwatifillah Rahimakumullah, banyak di antara kita yang sering menyebut kata Yahudi (Panggilan untuk Bangsa Penjajah Israel laknatullah alaihi) dan Nashoroh untuk kaum pengikut Nabi Isa As (kristen), tapi ada yang tahu apa arti dari nama nama tersebut diatas, sebagaimana kita mengetahui kata dan arti Islam yang berarti Selamat sebagai satu satunya agama yang Allah ridhoi dan membawa keselamatan bagi pengikutnya. Insya Allah Amin.

Kata Yahudi berasal dari kata Al Hawadatu yang berarti kasih sayang, atau Tawahhudu yang berarti taubat. Sebagaimana ucapan Musa AS Inna Hudnaa Ilaika “Sesungguhnya kami kembali kepada Mu” (QS. Al A’raaf 156) artinya “Kami Bertaubat”. Kemungkinan mereka disebut demikian dikarenakan taubat mereka dan kecintaan sebagian mereka kepada sebagian yang lainnya.

Dikatakan pula dinamakan Yahudi karena hubungan silsilah mereka dengan Yahuda, Putra paling tua nabi Ya’qub. Abu ‘amr bin al’-ala’ mengatakan, disebut Yahudi kerena mereka yatahawwaduuna, yaitu bergerak gerak ketika membaca Taurat. Wallahu’alam

Indahnya Sholat Terawih di Masjid Al Hikmah

22 Agustus 2009 pukul 8:13 PM | Ditulis dalam 1, Download, Hadist Pilihan, Nashaihul Ibad, Tarbiyah, Tokoh Islam | Tinggalkan komentar

Seperti tahun-tahun sebelumnya, sholat Tarawih pertama di masjid Al-Hikmah selalu dipadati oleh para jamaah, baik yang berasal dari lingkungan dekat masjid maupun warga dari luar yang ingin mengikuti sholat Tarawih di masjid ini.

Para aktivis Islam khususnya aktivis Tarbiyah, tentu tidak asing dengan masjid ini. Masjid yang terletak di kawasan Mampang Prapatan tepatnya di jalan Bangka II, sejak dahulu dari tahun 80 an telah menjadi cikal bakal berkembangnya gerakan Tarbiyah di Jakarta maupun Indonesia.

Bermula dari kepulangan ustadz Abdul Hasib dari studi nya di Timur Tengah, Ustadz Hasib begitu namanya sering dipanggil, bersama beberapa temannya mulai mengelola masjid ini – masjid yang dulunya masjid tradisional kampung – sedikit demi sedikit telah menjadi kawah candradimuka tempat menggodok para aktivis dakwah.

Dan kerja keras Ustadz Hasib bersama teman-temannya berbuah hasil. Tidak sedikit para Huffazh (penghafal Al-Quran) dan aktivis dakwah yang saat ini banyak menjadi pejabat – dulunya banyak beraktivitas dari masjid ini.

Salah satu tradisi yang baik yang sampai kini dilaksanakan oleh masjid Al-Hikmah sejak mulai maraknya kegiatan penghafalan (Tahfizh) Al-quran adalah pelaksanaan sholat Tarawih dengan pembacaan satu Juz Al-Quran setiap malam dalam sholat Tarawih dan 3 juz pada 10 hari terakhir Ramadhan. Dan kegiatan ini telah lama dilaksanakan oleh masjid AlHikmah.

Berbeda dengan masjid-masjid lain secara umum yang ramai diisi oleh jamaah yang ingin sholat Tarawih hanya pada seminggu pertama Ramadhan, namun jamaah masjid Al-Hikmah dari hari pertama sholat Tarawih dilaksanakan sampai nanti berakhirnya Ramadhan tetap penuh diisi para jamaah dan justru bertambah banyak pada 10 hari terakhir Ramadhan, meskipun sholat tarawih di masjid ini imamnya membacakan satu juz Al-Quran dalam tarawih.

Dengan jumlah rakaat tarawih 11 rakaat sudah termasuk sholat witir, imam tarawih masjid Al-Hikmah memimpin sholat dengan membaca ayat-ayat suci Al-Quran dengan tartil, tidak terburu-buru seperti umumnya masjid-masjid yang banyak kita temui yang imamnya membaca ayat-ayat Al-Quran dengan cepat dan gerakan sholatnya yang tidak kalah cepat dengan bacaannya. Dan para imam tarawih masjid Al-Hikmah hampir 100  persen adalah Hafizh Al-Quran 30 Juz!

Bagi kaum muslimin yang ingin merasakan keindahan Ramadhan dengan nuansa berbeda. sholat tarawih di masjid ini cukup direkomendasikan.(fq)

Himah Rasulullah SAW, Tidak Basa Baca Tulis

22 Agustus 2009 pukul 8:09 PM | Ditulis dalam 1, Download, Hadist Pilihan, Nashaihul Ibad, Tarbiyah, Tokoh Islam | Tinggalkan komentar

Assalamualaikum. Wr. Wb.

Ustad, ada satu pertanyaan yang menggantung yang hingga sekarang saya belum mendapatkan jawabannya.

Kenapa Rasulullah Muhammad SAW hingga akhir hayatnya tetap buta huruf, padahal ayat pertama yang beliau terima saja menyuruh untuk membaca (Q.S. Al  ‘Alaq)?

Setahu saya, batasan orang yang terpelajar dengan yang tidak terpelajar paling mendasar adalah kemampuan membaca, menulis dan berhitung. Rasulullah yang mata pencahariannya berdagang pasti paham perhitungan, tapi kenapa tidak untuk membaca dan menulis Rasulullah.

Apakah ada alasan khusus?

Mohon penjelasannya Ustad. Continue Reading Himah Rasulullah SAW, Tidak Basa Baca Tulis…

Shalat Terawih Rasulullah SAW

22 Agustus 2009 pukul 8:05 PM | Ditulis dalam 1, Download, Hadist Pilihan, Nashaihul Ibad, Tarbiyah, Tokoh Islam | Tinggalkan komentar

Tentang shalat tarawih yang dilakukan Rasulullah saw telah diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Abu Salamah bin Abdurrahman bahwa dirinya pernah bertanya kepada Aisyah tentang bagaimana shalat Rasulullah saw di bulan Ramadhan? Lalu Aisyah menjawab,”Bahwa beliau tidaklah menambah didalam bulan ramadhan juga tidak di bulan selainnya dari sebelas raka’at. Beliau saw shalat empat rakaat dan janganlah anda bertanya tentang bagus dan panjangnya rakaat itu. Kemudian beliau saw shalat empat rakaat dan janganlah anda bertanya tentang bagus dan panjangnya rakaat itu. Kemudian beliau saw shalat tiga rakaat.” Lalu aku berkata,”Wahai Rasulullah, apakah engkau tidur sebelum melakukan shalat witir?” Beliau saw menjawab,”Wahai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur namun hatiku tidaklah tidur.”

Perkataannya ”beliau saw shalat empat rakaat” tidaklah meniadakan bahwa beliau saw mengucapkan salam setelah dua rakaat, sebagaiamana sabda Rasulullah saw,”Shalat malam dua rakaat dua rakaat” dan perkataannya,”Beliau shalat tiga rakaat” maknanya adalah beliau saw melakukan shalat dua rakaat dan satu rakaat witir, sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dari Urwah dari Aisyah berkata,”Rasulullah saw melakukan shalat malam sebelas rakaat dengan witir satu rakaat.”

Hadits Aisyah diatas menunjukkan bahwa shalat tarawih yang dilakukan oleh Rasulullah saw begitu panjang dan bagus dalam pengerjaannya sebagaimana shalat-shalat malamnya pada umumnya di luar bulan ramadhan.

Namun demikian bukan berarti orang yang tidak melaksanakan shalat tarawih sebelas rakaat kemudian dipersalahkan karena tidak mengikuti contoh yang dilakukan oleh Rasulullah saw.

Sudah menjadi ijma’ para sahabat pada masa Umar bin Khottob bahwa manusia melakukan shalat tarawih sebanyak dua puluh rakaat. Meskipun hal ini tidak pernah terjadi pada masa Rasulullah saw bukan berarti bahwa hal ini tidak dianggap sunnah karena beliau saw telah memerintahkan kita untuk mengikuti apa-apa yang dilakukan oleh para Khulafaur Rasyidin, termasuk Umar bin Khottob, sebagaimana diriwayatkan oleh Tirmidzi dari al ’Irabdh bin Sariyah bahwa Rasulullah saw bersabda,”Hendaklah kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasydin al Mahdiyyin setelahku, gigitlah dengan gigi graham.”

Didalam al Mausu’ah al Fiqhiyah juz II hal 9635 – 9636 disebutkan bahwa jumhur fuqaha dari kalangan madzhab Hanafi, Syafi’i, Hambali dan sebagian Maliki berpendapat bahwa shalat tarawih dilakukan dengan dua puluh rakaat, sebagaimana diriwayatkan oleh Malik dari Yazid bin Ruman dan Baihaqi dari as Saib bin Yazid tentang shalat manusia pada masa Umar adalah dua puluh rakaat.

Al Kasani mengatakan bahwa Umar pernah mengumpulkan para sahabat Rasul saw pada bulan ramadhan dengan diimami oleh Ubay bin Ka’ab untuk melakukan shalat sebanyak dua puluh rakaat dan tak seorang pun mengingkarinya sehingga hal itu menjadi ijma dari mereka dalam hal itu.Ad Dasuqi dan yang lainnya mengatakan bahwa hal itu merupakan perbuatan para sahabat dan tabi’in. Sedangkan Ibnu Abidin mengatakan bahwa hal itu adalah perbuatan manusia di bagian barat maupun timur.

Diriwayatkan oleh Malik dari as Saib bin Yazid berkata,”Umar bin Khottob pernah memerintahkan Ubay bin Ka’ab dan Tamim ad Dariy untuk mengimami manusia dengan sebelas rakaat.” dia mengatakan bahwa imam membacanya dengann dua ratus ayat sehingga kami bersandar dengan tongkat karena lamanya berdiri dan kami tidaklah pulang kecuali mendekati fajar.” diriwayatkan oleh Malik dari Yazid bin Ruman bahwa dia mengatakan,”Manusia melakukan shalat pada masa Umar bin Khottob pada bulan ramadhan sebanyak dua puluh tiga rakaat.” diperkuat lagi oleh Baihaqi dan al Bajiy serta lainnya dari as Saib bin Yazid mengatakan bahwa mereka melakukan shalat dimasa Umar bin Khottob pada bulan ramadhan sebanyak dua puluh rakaat.”

Al Bajiy mengatakan bahwa kemungkinan Umar memerintahkan shalat sebelas rakaat serta memerintahkannya untuk memanjangkan bacaannya, dengan membaca dua ratus ayat setiap rakaatnya karena memanjangkan bacaan menjadi hal yang diutamakan. Dan ketika manusia saat itu mengalami kelemahan untuk itu maka Umar pun memerintakan agar shalat dikerjakan dengan dua puluh rakaat untuk meringankan mereka dari panjangnya berdiri saat shalat dan untuk mendapatkan beberapa keutamanaan dengan penambahan rakaat. Al Adawiy mengatakan bahwa sebelas rakaat adalah perintah awalnya lalu berubah menjadi dua puluh rakaat.”

Wallahu A’lam

Kenapa Sholat harus Menghadap Ka’bah

9 Agustus 2009 pukul 4:44 PM | Ditulis dalam 1, Download, Hadist Pilihan, Nashaihul Ibad, Tarbiyah, Tokoh Islam | Tinggalkan komentar

Mungkin selama ini kita selalu bertanya setiap kali kita melakukan ibadah sekaligus rukun Islam nomor dua yaitu shalat kita selalu menghadap kiblat, atau dalam hal ini Ka’bah. Nah mengapakah sebenarnya harus menghadap Ka’bah?

Hal ini sebenarnya merupakan sejarah yang paling tua di dunia. Bahkan jauh sebelum manusia diciptakan di bumi, Allah swt telah mengutus para malaikat turun ke bumi dan membangun rumah pertama tempat ibadah manusia. Ini sudah dituturukan dalam Al-Quran: Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia . (QS. Ali Imran : 96). Continue Reading Kenapa Sholat harus Menghadap Ka’bah…

Maksud dari ‘Tuhan Negeri Ini’

9 Agustus 2009 pukul 4:42 PM | Ditulis dalam 1, Download, Hadist Pilihan, Nashaihul Ibad, Tarbiyah, Tokoh Islam | Tinggalkan komentar

Assalamualaikum wr,wb

saya ingin bertanya ustadz mengenai tafsiran dari QS An-Naml : 91 yang diterjemahkan menjadi :

“Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Rabb negeri ini (Mekah) yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”

bukankah Allah adalah Tuhannya semesta alam,Tuhannya umat manusia di seluruh negeri,apakah maksud dari kata-kata Rabb negeri ini?bagaimanakah dari segi penafsirannya ustadz? mohon pelurusan,terima kasih Ustadz…

Wassalam.. Continue Reading Maksud dari ‘Tuhan Negeri Ini’…

Lokasi Terdamparnya Kapal Nabi Nuh AS

9 Agustus 2009 pukul 4:41 PM | Ditulis dalam 1, Download, Hadist Pilihan, Nashaihul Ibad, Tarbiyah, Tokoh Islam | 1 Komentar

Assalamualaikum Wr.WB

Mohon penjelasannya ustad tentang ayaat tersebut,dan bagaimana tinjauan dari sudut sains yang ada. Benarkah bahtera Nuh a.s terdampar di bukit daerah armenia?

Wassalamualaikum Wr.Wb

Abah

Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb

Tentang penciptaan langit dan bumi dalam enam hari yang disebutkan Allah swt didalam surat Huud ayat 7, anda bisa membuka kembali “Penciptaan Langit dan Bumi” di rubrik ini.

Adapun tentang bahtera Nabi Nuh as ini sesungguhnya Allah swt telah meninggalkannya sebagai salah satu dari tanda kebesaran-Nya dan agar orang-orang yang datang setelahnya dapat mengambil pelajaran dari kejadian yang dialami oleh Nuh dan orang-orang yang bersamanya yang kemudian diselamatkan dengan bahtera itu sementara orang-orang yang kafir terhadapnya ditenggelamkaan oleh Allah swt, sebagaimana firman-Nya :

وَلَقَد تَّرَكْنَاهَا آيَةً فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ ﴿١٥﴾
فَكَيْفَ كَانَ عَذَابِي وَنُذُرِ ﴿١٦﴾

Artinya : “Dan Sesungguhnya telah kami jadikan kapal itu sebagai pelajaran, Maka Adakah orang yang mau mengambil pelajaran? Maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku.” (QS. Al Qomar : 15 – 16)

Sedangkan keberadaan bahteranya setelah Allah swt menyelamatkannya serta orang-orang yang bersamanya juga telah disebutkan didalam firman-Nya :

وَقِيلَ يَا أَرْضُ ابْلَعِي مَاءكِ وَيَا سَمَاء أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَاء وَقُضِيَ الأَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ وَقِيلَ بُعْداً لِّلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Artinya : “Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan Hai langit (hujan) berhentilah,” dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim .” (QS. Huud : 44)

Lalu diimana sebenarnya bukit Judi, yang menjadi tempat berlabuhnya bahtera Nuh inilah yang hingga kini masih banyak diperselisihkan orang. Ada yang mengatakan bahwa ia berada di Armenia, ada yang mengatakan di Iraq, ada yang mengatakan di Turki atau juga di daerah Yaman.

Mereka yang mengatakan bahwa bahtera Nuh tersebut berada di Armenia berdasarkan pada apa yang diberitakan didalam injil bahwa bahtera itu terdampar di bukit Ararat.
Namun ada juga yang mengatakan bahwa Ararat bukanlah sebuah bukit akan tetapi ia adalah sebuah perbukitan yang memanjang antara Armenia, Turki dan Iraq bagian utara sementara bukit Judi adalah salah satu bukit dari perbukitan Ararat itu.

Ararat; Tempat Kapal Nabi Nuh Berlabuh

Sementara itu orang yang mengatakan bahwa bahtera Nuh berada di Yaman mengemukakan beberapa argumentasinya seperti :

1. Bahwa tidak pernah terjadi air bah di daerah Asia Tengah yang menjadikan bahtera Nuh berada di Armenia sebagaima disebutkan berbagai sumber sejarah dan hasil dari penelitian orang-orang Amerika di Laut Mati dan daerah-daerah sekitarnya pada tahun 2005.

2. Dan disebutkan didalam beberapa sumber sejarah bahwa asal muasal kaum Nuh adalah Bani Rasib yang merupakan asal-muasal dari orang-orang Yaman yang kemudian menyebar ke berbagai daerah di Jazirah Arab.

3. Keberadaan gunung yang disebut dengan Tanur—yang disebutkan didalam Al Qur’an—berada di kota Hamdan propinsi Shan’a.

4. Dan sesungguhnya kuburan Nabi Nuh berada di desa al Waqsyah yang dibangun didaerah Nahm. Hal ini dibuktikan dengan nama kota itu adalah Nahm yang juga nama dari Nabi Nuh as, Nuh adalah Nahm, sebagaimana disebutkan didalam Taurat.

5. Kota Shan’a dahulunya juga bernama kota Saam bin Nuh as.

Sementara itu Imam Ath Thobari mengatakan dari Ishaq bahwa bahtera itu berada di air selama satu tahun, melewati baitullah dan melakukan perputaran (thawaf) sebanyak tujuh kali lalu Allah mengangkatnya agar tidak tenggelam kemudian menuju Yaman dan kembali lagi ke Judi dan berlabuh di sana.

Sedangkan Al Qurthubi dan juga Al Baghowi didalam tafsirnya masing-masing menjelaskan bahwa bukit judi berada didaerah jazirah dekat al Maushul.

Didalam al Bidayah wa an Nihayah, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa bukit Judi adalah bukit besar yang berada disebelah timur Jazirah Ibnu Umar hingga ke sungai Dajlah, berada dipinggiran al Maushul, (panjang bukit itu) dari selatan hingga utaranya sepanjang tiga hari perjalanan dan memiliki ketinggian sepanjang setengah hari perjalanan. Ia adalah bukit yang hijau karena ditumbuhi pepohonan dari eek (kayu) yang disampingnya terdapat sebuah desa yang bernama desa ats tsamanin sebagai tempat tinggal orang-orang yang diselamatkan bersama Nuh yang berada didalam bahtera itu. Tentang lokasi ini, Ibnu Katsir juga menyebutkan bahwa tidak hanya satu orang ahli tafsir yang menyebutkannya.

Namun dimana letak yang pastinya maka kita serahkan sepenuhnya kepada Allah swt yang Maha Mengetahui segala sesuatunya, Dia lah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin.

Wallahu A’lam

Ayat Muhkamat dan Mutasyabihaat

9 Agustus 2009 pukul 4:40 PM | Ditulis dalam 1, Download, Hadist Pilihan, Nashaihul Ibad, Tarbiyah, Tokoh Islam | Tinggalkan komentar

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Saya mohon penjelasan tentang ayat Muhkamaat dan Mutasyabihaat sebagaimana tercantum didalam surat Ali ‘Imran ayat 7. Atas penjelasan ustadz kami mengucapkan terima kasih.

Continue Reading Ayat Muhkamat dan Mutasyabihaat…

Insya Allah KCB 2 17 September 2009, Info dari Azzam

28 Juli 2009 pukul 12:39 PM | Ditulis dalam 1, Download, Hadist Pilihan, Nashaihul Ibad, Tarbiyah, Tokoh Islam | Tinggalkan komentar
KCB 2

KCB 2

Hukum Berhenti dari Jamaah

11 Juni 2009 pukul 6:57 PM | Ditulis dalam 1, Download, Hadist Pilihan, Tarbiyah, Tokoh Islam | Tinggalkan komentar

Hukum Berhenti dari Jamaah

Kamis, 11/06/2009 11:26 WIBJikalau kita sudah menganggap kebijakan suatu jamaah tidak sesuai dengan Qurán dan sunnah Rasulullah SAW yang menjadi tauladan kita, apakah berdosa hukumnya keluar dari jamaah tersebut? Bagaimana caranya di hadapan Allah SWT , apakah mohon ampun? Sepertinya adalam siroh tidak ada ya mekanismenya? Sbg info, jamaah tsb bersikukuh masih menjalankan manhaj sesuai sunnah Rasul, namun selalu membuat pusing akhir-akhir ini.

Singarimbun

Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb

Kedudukan Jama’atul Muslimin

Jama’ah secara bahasa barasal dari kata jam’u yang berarti mengumpulkan yang terpecah belah dan menggabungkan sesuatu dengan mendekatkan sebagiannya dari sebagian yang lain. Jama’ah adalah sekelompok orang yang dikumpulkan dengan satu tujuan.

Kata jama’ah ini juga digunakan untuk selain manusia sehingga mereka mengatakan,”jama’ah pohon, jama’ah tumbuh-tumbuhan.” Karena itulah kata jama’ah digunakan untuk kumpulan segala sesuatu.

Adapun menurut istilah para fuqoha kata jama’ah digunakan untuk sekumpulan manusia. Al Kasaani mengatakan bahwa jama’ah diambil dari arti ijtima’ dan minimal terjadinya ijtima’ adalah dua orang.” Dan dia mengatakan bahwa minimal disebut jama’ah adalah dua orang yaitu imam dan makmum.” (al Mausu’ah al Fiqhiyah juz II hal 5435)

Husein bin Muhammad bin Ali Jabir dalam menjelaskan tentang makna jama’ah menurut syariat mengutip apa yang dikatakan Imam Syathibi bahwa jama’ah adalah :

1. Para penganut islam apabila bersepakat atas suatu perkara; dan pengikut agama lain diwajibkan mengikuti mereka.
2. Masyarakat umum dari penganut islam.
3. Kelompok ulama mujtahidin.
4. Jama’atul muslimin apabila menyepakati seorang amir.
5. Para sahabat Rasulullah saw secara khusus.

Setelah itu Imam Syathibi menguatkan bahwa yang dimaksud dengan jama’ah adalah jama’atul muslimin apabila mereka menyepakati seorang amir. Pendapat ini didukung oleh al Hafizh Ibnu Hajar didalam kitabnya “Fathul Bari” Husein bin Muhammad mengatakan pula bahwa empat pendapat pertama diatas dapat dirangkum dalam satu rumusan. Bahwa Jama’atul Muslimin adalah jamaah ahlul halli wal aqdi apabila menyepakati seorang khalifah umat dan umat pun mengikuti mereka. (Menuju Jama’atul Muslimin hal 32)

Sesungguhnya berkelompok atau berjama’ah tidaklah bisa dilepaskan dari kehidupan setiap orang dalam melasanakan segala aktivitas dan untuk memenuhi berbagai kebutuhannya. Dan dengan berjama’ah atau berkelompok maka segala permasalahan yang sulit akan terasa mudah, yang berat akan menjadi ringan dan segala yang tampak seolah-olah tidak mungkin akan menjadi mungkin direalisasikan. Karena itulah ada ungkapan bahwa berjama’ah adalah rahmat sedangkan perpecahan adalah adzab.

Islam sebagai agama rahmat senantiasa meminta setiap umatnya untuk memperhatikan tentang kebersamaan atau berjama’ah dan Allah memberikan kelebihan bagi yang melakukannya. Allah memberikan kelebihan dua puluh tujuh derajat bagi orang yang melaksanakan shalat dengan berjama’ah ketimbang orang yang shalat sendirian. Rasulullah saw pun menegaskan sesungguhnya setan bersama orang yang sendirian dan ia menjauh dari orang yang berdua.

Didalam urusan bepergian (safar) saja islam memerintahkan agar dipilih seorang amir diantara mereka yang bepergian. Lalu bagaimanakah dengan menegakkan syariat? Menanamkan nilai-nilai islam ditengah-tengah umat? Tentunya didalam kedua urusan terakhir ini keberadaan imam sebagai representasi dari jama’ah menjadi lebih utama bagi kaum muslimin.

Pada dasarnya seluruh kaum muslimin hanya diikat oleh satu jama’ah yaitu jama’atul muslimin dengan satu kepemimpinan yaitu khalifah. Jamaatul muslimin ini merupakan ikatan yang kuat didalam menjalankan hukum Allah dan syari’at-Nya ditengah-tengah kehidupan umat manusia sehingga menjadikan islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Dan ketika ikatan jama’atul muslimin ini hancur maka hancurlah seluruh ikatan-ikatan islamnya, hilanglah syia’ar-syi’arnya dan umat menjadi terpecah-pecah. Inilah makna ungkapan Umar bin Khottob,”Wahai masyarakat Arab, tidak ada islam kecuali dengan jama’ah, tidak ada jama’ah kecuali dengan kepemimpinan, dan tidak ada kepemimpinan kecuali dengan ketaatan.” (HR. Bukhori)

Juga hadits yang diriwayatkan oleh Umamah al Bahiliy dari Rasulullah saw bersabda,”Ikatan-ikatan islam akan lepas satu demi satu. Apabila lepas satu ikatan, akan diikuti oleh lepasnya ikatan berikutnya. Ikatan islam yang pertama kali lepas adalah pemerintahan dan yang terakhir adalah shalat.” (HR. Ahmad)

Dan ketika jamaatul muslimin atau jama’ah yang mengikat seluruh kaum muslimin di alam ini dengan satu kepemimpinan khilafah telah terwujud maka umat islam diharuskan untuk membaiatnya serta dilarang untuk melepaskan baiatnya dari keterikatannya dengan jama’atul muslimin, sebagaimana didalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Hudzaifah bin al Yaman berkata bahwa orang-orang banyak bertanya kepada Rasulullah saw tentang kebaikan dan aku pernah menanyakan kepadanya tentang keburukan, karena aku khawatir menemui keburukan itu. Aku bertanya,”Apa yang engkau printahkan kepadaku jika aku menemui keadaan itu?’ Beliau saw bersabda,”Hendaklah engkau berkomitmen (iltizam) dengan jama’atul muslimin dan imam mereka.” (HR. Bukhori)

Dari Abdullah bin ‘Amr ra bahwa Nabi saw bersabda,”Barangsiapa yang membaiat seorang imam kemudian imam itu memberikan untuknya buah hatinya dan mengulurkan tangannya maka hendaklah ia menaatinya sedapat mungkin.” (HR. Muslim)

Dari Ummu Salamah bahwa Rasulullah saw bersabda,”Kamu akan diperintah oleh para pemimpin yang kamu kenal (tidak baik) dan kamu mengingkarinya.” Mereka bertanya,”Apakah kami boleh memerangi mereka?” Beliau saw menjawab,”Jangan selama mereka masih shalat.” (HR. Muslim dan Tirmidzi, beliau mengatakan hadits hasan shahih)

Demikianlah beberapa hadits diatas yang menunjukkan betapa tingginya kedudukan seorang imam jama’atul muslimin didalam diri setiap rakyatnya. Di situ juga disebutkan betapa setiap muslim harus senantiasa mengedepankan kesabaran, tidak membangkang, tetap menaatinya dengan segenap kemampuannya walaupun seorang imam melakukan kemaksiatan selama ia masih menegakkan shalat. Hadits-hadits itu melarang setiap muslim untuk meninggalkan ketaatan kepadanya atau keluar darinya dan membentuk jama’ah sendiri atau tidak berjama’ah.

Adakah Jama’atul Muslimin Saat Ini

Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah apakah jama’atul muslimin ada pada saat ini? Bisakah jama’ah-jama’ah pergerakan, partai-partai islam, ormas-ormas islam yang ada saat ini disebut dengan jama’atul muslimin?

Husein bin Muhammad bin Ali Jabir mengatakan bahwa sesuai dengan pengertian syar’inya maka jamaatul muslimin boleh dikatakan tidak ada lagi di dunia sekarang ini. Beberapa bukti yang menunjukkan hal itu adalah :

1. Diantara alasan-alasan yang digunakannya adalah hadits yang diriwayatkan dari Huzaifah bin Yaman yang berkata bahwa orang-orang banyak bertanya kepada Rasulullah saw tentang kebaikan dan aku pernah menanyakan kepadanya tentang keburukan, karena aku khawatir menemui keburukan itu. Aku bertanya,”Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemui keadaan itu?’ Beliau saw bersabda,”Hendaklah engkau berkomitmen (iltizam) dengan jama’atul muslimin dan imam mereka.” (HR. Bukhori)

Hadits ini memberitahu akan datangnya suatu zaman kepada umat islam dimana jama’atul muslimin tidak muncul di tengah kehidupan umat islam. Seandainya ketidakmunculannya itu mustahil, niscaya dijelaskan oleh Rasulullah saw kepada Hudzaifah. Tetapi, Rasulullah saw justru mengakui terjadinya hal tersebut dan mengarahkan Hudzaifah agar menggigit akar pohon (islam) dalam menghadapi tidak adanya Jama’atul Muslimin dan imam mereka itu.

2. Bukti lainnya yang menunjukkan tidak adanya Jama’atul Muslimin ialah adanya beberapa pemerintahan yang memerintah umat islam. Sebab, islam tidak mengakui selain satu pemerintahan yang memerintah umat islam. Bahkan islam memerintakan umat islam agar membunuh penguasa kedua secara langsung, sebagaimana dijelaskan oleh nash-nash syariat.

Dari Abu Said al Khudriy bahwa Rasulullah saw bersabda,”Apabila ada baiat kepada dua orang khalifah maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya.” (HR. Ahmad)

Imam Nawawi dalam mengomentari hadits ini berkata,”Arti hadits ini ialah apabila seorang khalifah yang dibaiat setelah ada seorang khalifah maka baiat pertama itulah yang sah dan wajib ditaati. Sedangkan bai’at kedua dinyatakan batil dan diharamkan untuk taat kepadanya.

3. Bukti lainnya adalah hadits yang diriwayatkan dari Abu Umamah al Bahiliy bahwa Rasulullah saw bersabda,”Ikatan-ikatan islam akan lepas satu demi satu. Apabila lepas satu ikatan, akan diikuti oleh lepasnya ikatan berikutnya. Ikatan islam yang pertama kali lepas adalah pemerintahan dan yang terakhir adalah shalat.” (HR. Ahmad)

Hadits ini jelas menyatakan akan datangnya suatu masa dimana pemerintahan dan khilafah tidak muncul. (Menuju Jama’atul Muslimin hal 42 – 46)

Sementara itu jama’ah-jama’ah pergerakan yang ada saat ini, seperti Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Jama’ah Tabligh, Salafi, PKS, PPP, NU, Muhammadiyah atau lainnya bukanlah jama’atul muslimin namun hanyalah jama’ah minal muslimin yaitu jama’ah yang terdiri dari sekelompok kaum muslimin yang berjuang untuk mewujudkan cita-cita islam berdasarkan manhaj atau metode gerakan masing-masing.

Kepemimpinan pada masing-masing jama’ah minal muslimin tidaklah bersifat universal mengikat seluruh kaum muslimin namun ia hanya mengikat setiap anggota yang ada didalam jama’ahnya.

Keberadaan jama’ah minal muslimin pada saat ini atau saat tidak adanya jama’atul muslimin sangatlah dibutuhkan dan diperlukan sebagai ruh dan anak tangga dari kemunculan jama’atul muslimin sebagaimana disebutkan dalam suatu kaidah “Tidaklah suatu perkara wajib dapat sempurna kecuali dengan sesuatu yang lain maka sesuatu itu menjadi wajib pula.” Menegakkan khilafah atau jama’atul muslimin adalah kewajiban setiap muslim dan ia tidak akan terwujud kecuali dengan da’wah yang dilakukan secara berkelompok maka menegakkan da’wah dengan cara berjamaah (jama’ah minal muslimin) ini adalah wajib.

Sayyid Qutb mengatakan bahwa bagaimana proses kebangkitan islam dimulai sesungguhnya ia memerlukan kepada golongan perintis yang menegakkan kewajiban ini.” Ustadz Sayyid Hawwa mengatakan bahwa satu-satunya penyelesaian ialah harus menegakkan jama’ah.” Ustadz Fathi Yakan mengatakan bahwa Rasulullah tidak pernah sama sekali mengandalkan kepada kerja individual (infirodiy) tetapi sejak awal beliau telah menganjurkan penegakkan jama’ah.”

Melepaskan Ba’iat atau Keluar dari Jama’ah Minal Muslimin

Tentunya sebagai sebuah jamaah yang menggabungkan sekian banyak da’i atau orang-orang yang ingin berjuang untuk islam didalamnya maka diperlukan soliditas, komitmen dan ketaatan semua anggotanya kepada pemimpin dan aturan-aturan jamaah tersebut. Untuk meneguhkan itu semua maka jamaah perlu mengambil janji setia dari setiap anggotanya yang kemudian dikenal dengan istilah baiat, sebagaimana firman Allah swt :

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنكُثُ عَلَى نَفْسِهِ وَمَنْ أَوْفَى بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا
Artinya : “Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu Sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. tangan Allah di atas tangan mereka, Maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah Maka Allah akan memberinya pahala yang besar.” (QS. Al Fath : 10)

Tentulah kedudukan baiat kepada imam, amir, qiyadah jama’ah minal muslimin berbeda dengan baiat kepada imam dari jama’atul muslimin dikarenakan imam jama’atul muslimin dipilih oleh ahlul halli wal aqdi dari seluruh umat islam sedangkan imam dari jama’ah minal muslimin dipilih oleh majlis atau dewan syuro sebagai perwakilan seluruh anggota di jama’ah itu.

Hadits-hadits yang melarang bahkan mengancam seseorang melepaskan baiatnya adalah terhadap imam atau khalifah dari jama’atul muslimin bukan terhadap imam dari jama’ah minal muslimin, seperti hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa yang melepaskan tangannya (baiat) dari suatu keaatan maka ia akan bertemu Allah pada hari kiamat tanpa adanya hujjah (alasan) baginya. Dan barangsiapa mati sementara tanpa ada baiat di lehernya maka ia mati seperti kematian jahiliyah.” (HR. Muslim)

Dan para pemimpin atau amir suatu jamaah minal muslimin tidaklah termasuk didalam hadits ini. DR. Husamuddin Unafah, Ustadz bidang studi fiqih dan ushul di Universitas al Quds, Palestina mengatakan bahwa yang dimaksud dengan baiat didalam hadits diatas adalah baiat imam kaum muslimin atau khalifah kaum muslimin yang dibaiat oleh ahlul halli wal ‘aqdi dari umat islam. Hadits ini tidak bisa diterapkan kepada para pemimpin di zaman ini atau pembesar partai (jamaah) karena setiap dari mereka bukanlah imam (pemimpin) dari seluruh kaum muslimin.

Al Mawardi mengatakan bahwa apabila ahlul halli wal ‘aqdi didalam pemilihan melihat ahlul imamah memenuhi persyaratan maka hendaklah ahlul halli wal ‘aqdi mengedepankan untuk dibaiat orang yang lebih utama dan lebih sempurna persyaratannya diantara mereka dan hendaklah manusia segera menaatinya dan tidak berhenti untuk membaiatnya.

Untuk itu ahlul halli wal ‘aqdi dari kaum muslimin adalah orang-orang yang berwenang memilih imam kaum muslimin dan khalifah mereka dan pendapat orang-orang awam tidaklah dianggap terhadap kesahan baiat. Ar Romli dari ulama Syafi’i mengatakan bahwa baiat yang dilakukan oleh selain ahlul halli wal ‘aqdi dari kalangan awam tidaklah dianggap.

Imam kaum muslimin yang diharuskan berbaiat kepadanya memiliki berbagai persyaratan yang telah disebutkan ahlul ilmi. Dan persyaratan itu tidaklah bisa diterapkan kepada pemimpin partai, jama’ah-jama’ah yang ada sekarang ini.
Imam Nawawi meletakkan hadits Ibnu Umar diatas pada bab “Kewajiban Bersama Jamaah Kaum Muslimin..”. Maksud dari hadits itu adalah bahwa barangsiapa yang mati tanpa ada baiat dilehernya maka matinya seperti kematian jahiliyah yaitu ketika terdapat imam syar’i saja. Inilah pemahaman yang benar dari hadits itu bahwa jika terdapat imam syar’i yang memenuhi berbagai persyaratan kelayakan untuk dibaiat dan tidak terdapat padanya hal-hal yang menghalanginya maka wajib bagi setiap muslim untuk bersegera memberikan baiatnya apabila ahlul halli wal ‘aqdi memintanya atau meminta darinya dan tidak boleh bagi seorang pun yang bermalam sementara dirinya tidak memiliki imam.

Adapun apabila tidak terdapat berbagai persyaratan baiat pada seorang hakim maka tidaklah ada kewajiban baginya dibaiat akan tetapi hendaklah dia berusaha untuk mengadakan seorang imam syar’i sesuai dengan kemampuannya dan Allah tidaklah membebankan seseorang kecuali dengan kemampuannya.
Argumentasi lainnya adalah :

1. Sesungguhnya baiat adalah kewajiban yang kifayah artinya jika sebagian kaum muslimin menegakkannya maka terlepaslah kewajiban itu bagi selain mereka, sebagaimana dikatakan jumhur ulama.

2. Apa yang dilakukan Ibnu Umar sebagai perawi hadits diatas dan dia adalah orang yang paling faham terhadap hadits itu daripada orang lain. Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa beliau tidak mau membaiat Ali atau Muawiyah lalu dia membaiat Muawiyah setelah terjadi perdamaian dengan Hasan bin Ali dan manusia telah berkumpul dihadapannya. Lalu beliau membaiat Yazid bin Muawiyah setelah kematian Muawiyah karena manusia telah berkumpul dihadapannya kemudian tidak mau membaiat seseorang pada saat terjadi perpecahan sehingga terbunuhnya Ibnu Zubeir dan kekuasaan seluruhnya diserahkan kepada Abdul Malik bin Marwan dan ia pun membaiatnya pada saat itu… dan juga terdapat riwayat dari pekataannya,”…akan tetapi aku tidak suka membaiat dua orang amir (imam) sebelum manusia berkumpul pada satu orang amir.” (www.islamweb.net)

Dengan demikian diperbolehkan bagi seseorang untuk melepaskan baiatnya dari imam atau pemimpin jama’ah minal muslimin atau keluar darinya setelah meyakini bahwa telah terjadi penyimpangan yang cukup significan dalam tubuh jama’ah tersebut baik penyimpangan dalam diri qiyadah, para pemimpin, garis perjuangannya atau prinsip-prinsip pergerakannya yang dapat memberikan pengaruh negatif kepada umat, sebagaiamana hadits Rasulullah saw,”Tidak ada ketaatan dalam suatu kemaksiatan akan tetapi ketaatan kepada hal yang ma’ruf.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Pada dasarnya baiat yang diberikan kepada pemimpin jamaah itu adalah baiat untuk beramal islam. Artinya baiat atau janji setia diantara orang yang berbaiat dengan orang yang dibaiat dalam hal ini adalah pemimpin sebagai representasi dari jama’ah itu bisa diteruskan selama mereka komitmen dengan amal-amal islam, seperti tidak melanggar rambu-rambu akidah, berpegang teguh dengan syariah, tidak mengerjakan yang diharamkan Allah dan lainnya.

Namun hendaklah pelepasan baiat atau keluar darinya dilakukan setelah berbagai upaya megingatkan atau memberikan nasehat baik secara langsung atau pun tidak langsung baik yang telah dilakukan olehnya maupun orang-orang selainnya yang menginginkan perbaikan didalam tubuh jama’ah tidaklah diterima atau digubris sehingga mengakibatkan kesalahan-kesalahan itu terus berulang dan berulang karena agama ini tegak diatas landasan nasehat sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Abu Ruqayyah bin Aus ad Dary ra menerangkan bahwa Nabi saw bersabda,”Agama itu nasehat.” Kami bertanya,”Bagi siapa?” Beliau saw menjawab,”Bagi Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin muslim dan bagi kaum muslimin pada umumnya.” (HR. Muslim)

Ketika dia memutuskan untuk melepaskan baiatnya maka hendaklah setelah itu dia mencari jama’ah minal muslimin lainnya yang diyakininya lebih baik darinya untuk bisa beramal islam secara berjama’ah meskipun hal ini bukan menjadi suatu kewajiban baginya pada masa-masa ketidakberadaan jama’atul muslimin akan tetapi hal itu merupakan bagian dari keutamaan. Dan jika dirinya tidak melihat ada jama’ah minal muslimin lainnya yang lebih baik darinya maka diperbolehkan baginya untuk berdiam diri sejenak atau tidak bergabung dengan jama’ah manapun sampai dia menemukan jama’ah lainnya yang lebih baik darinya atau kembali kepada jama’ah yang ditinggalkannya itu ketika diyakini bahwa jama’ah tersebut telah kembali ke jalannya seperti sediakala.

Wallahu A’lam

Ustadz Sigit Pranowo, Lc.

Hukum Wanita Shalat di Masjid

23 Mei 2009 pukul 9:54 PM | Ditulis dalam 1, Hadist Pilihan, Nashaihul Ibad, Tarbiyah, Tokoh Islam | Tinggalkan komentar

Assalamu’alaikum wr.wr

pak ustaz yth…Istreri saya ingin sekali salat di Musholla tapi banyak yang mengatakan ke dirinya bahwa, perempuan salat di musholla tidak dianjurkan…mohon dijelaskan hukum perempuan yang yang shalat di masjid/musholla..

sukron..

Wassalamu,alaikum Wr.Wb

wahyu

Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb

Saudara Wahyu yang dimuliakan Allah swt

Para ulama telah bersepakat bahwa shalat seorang laki-laki lebih utama dilakukan berjama’ah di masjid daripada di rumahnya, sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw bersabda,”Shalat berjama’ah itu lebih utama daripada shalat sendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Juga hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairoh bahwa telah datang seorang laki-laki buta menemui Nabi saw dan berkata,”Wahai Rasulullah aku tidak memiliki penuntun yang akan membawaku ke masjid.’ Ia meminta agar Rasulullah saw memberikan rukhshah (keringanan) kepadanya untuk melakukan shalat di rumahnya lalu Nabi saw memberikan rukhshah kepadanya. Namun tatkala orang itu berlalu maka beliau saw memanggilnya dan bertanya kepadanya,’Apakah kamu mendengar suara adzan untuk shalat?’ orang itu berkata,’ya.’ Beliau bersabda,’kalau begitu kamu harus menyambutnya (ke masjid).” (HR. Muslim) –(baca : “Mendengar Adzan Ketika Sedang Sibuk”)

Adapun bagi seorang wanita maka kehadirannya di masjid untuk melakukan shalat berjama’ah diperbolehkan bagi mereka yang sudah tua dan dimakruhkan bagi yang masih muda karena dikhawatirkan adanya fitnah. Untuk itu yang lebih utama baginya adalah melakukan shalat di rumahnya, demikian menurut DR. Wahbah.

Beberapa pendapat para ulama tentang permasalahan ini adalah :

1. Abu Hanifah dan dua orang sahabatnya mengatakan bahwa makruh bagi seorang wanita yang masih muda menghadiri shalat berjama’ah (di masjid) secara mutlak karena dikhawatirkan adanya fitnah. Abu Hanifah mengatakan bahwa tidak mengapa bagi seorang wanita yang sudah tua pergi ke masjid untuk shalat shubuh, maghrib dan isya karena nafsu syahwat bisa menimbulkan fitnah di waktu-waktu selain itu. Orang-orang fasiq tidur pada waktu shubuh dan isya kemudian mereka disibukan dengan makanan pada waktu maghrib. Sedangkan kedua orang sahabatnya membolehkan bagi seorang wanita yang sudah tua pergi ke masjid untuk melakukan semua shalat karena tidak ada fitnah didalamnya dikarenakan kecilnya keinginan (syahwat) seseorang terhadapnya.

Dan madzhab dikalangan para ulama belakangan adalah memakruhkan wanita menghadiri shalat jama’ah walaupun shalat jum’at secara mutlak meskipun ia seorang wanita tua pada malam hari dikarenakan sudah rusaknya zaman dan tampaknya berbagai kefasikan.

2. Para ulama Maliki mengatakan bahwa dibolehkan bagi seorang wanita dengan penuh kesucian dan tidak memikat kaum laki-laki untuk pergi ke masjid melakukan shalat berjama’ah, id, jenazah, istisqo (shalat meminta hujan), kusuf (shalat gerhana) sebagaimana dibolehkan bagi seorang wanita muda yang tidak menimbulkan fitnah pergi ke masjid (shalat berjama’ah) atau shalat jenazah kerabatnya. Adapun apabila dikhawatirkan terjadinya fitnah maka tidak diperbolehkan baginya untuk pergi ke masjid secara mutlak.

3. Para ulama Syafi’i dan Hambali mengatakan bahwa makruh bagi para wanita yang cantik atau memiliki daya tarik baik ia adalah seorang wanita muda atau tua untuk pergi ke masjid shalat berjama’ah bersama kaum laki-laki karena hal itu merupakan sumber fitnah dan hendaklah ia shalat di rumahnya. Dan dibolehkan bagi para wanita yang tidak menarik untuk pergi ke masjid jika ia tidak mengenakan wangi-wangian dan atas izin suaminya meskipun sesungguhnya rumahnya lebih baik baginya, berdasarkan sabda Rasulullah saw,”Janganlah engkau melarang para wanita itu pergi ke masjid meskipun rumah mereka lebih baik bagi mereka.” Didalam lafazh lainnya disebutkan,”Apabila para wanita kalian meminta izin kepada kalian pada waktu malam hari untuk ke masjid maka izinkanlah mereka.” (HR. Jama’ah kecuali Ibnu Majah) yaitu jika aman dari kerusakan (fitnah). Juga sabdanya saw,”Janganlah kamu melarang para wanita pergi ke masjid, hendaklah mereka keluar tanpa memakai wangi-wangian.” (HR. Ahmad, Abu daud dari Abu Hurairoh) dan dari Ummu Salamah bahwa Rasulullah saw bersabda,”Sebaik-baik masjid bagi kaum wanita adalah didalam rumahnya.” (HR. Ahmad)

Intinya adalah bahwa tidak dibolehkan bagi seorang wanita cantik (menarik) untuk pergi ke masjid dan dibolehkan bagi wanita yang sudah tua. (al Fiqhul Islami wa Adillatuhu juz II hal 1172 – 1173)

Wallahu A’lam

Tihamah dan Doa Ghoiru Ma’tsur

23 Mei 2009 pukul 9:51 PM | Ditulis dalam 1, Hadist Pilihan, Nashaihul Ibad, Tarbiyah, Tokoh Islam | Tinggalkan komentar

Assalamu’alaikum
ALHAMDULILLAH, WA SHALATU WA SALAMU ‘ALA RASULILAAH
Ustad Sigit yang selalu dirahmati ALLAH,
Ada 2 hal yang menjadi pertanyaan saya, yaitu :

1. Dalam sebuah lagu yang dibawakan oleh RAIHAN, disebutkan bahwa Rasul SAW , dibangkitkan dari golongan tihamah. Apa arti dan maksud dari tihamah ini ustad ?

2. Dalam sebuah buku, saya pernah membaca istilah, yaitu ghoiru ma’tsur, (dalam buku itu ditulis ghoiru ma’tsur adalah doa-doa yang tidak diajarkan oleh Rasulullah SAW). Apakah seluruh doa yang kita panjatkan kepada ALLAH SWT harus pernah diajarkan oleh Rasul SAW ? Bagaimana status doa kita yang mungkin berbeda “keinginan” dan “kebutuhan” dengan Rasul SAW, sehingga doa tsb tidak pernah diajarkan dan dipanjatkan Rasul SAW.

Demikian pertanyaan saya, mohon maaf kalau pertanyaannya tergolong pertanyaan awam, semoga ustad berkenan untuk membahasnya.

Abu ABis

Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb

Penjelasan tentang Tihamah

Abul Mundzir mengatakan bahwa tihamah adalah daerah sepanjang pantai termasuk didalamnya adalah Mekah. Dia berkata sedangkan Hijaz adalah daerah yang memisahkan antara tihamah dan arudh (Mekah, Madinah dan sekitarnya, pen).

Al Madini mengatakan bahwa Tihamah adalah daerah dari Yaman terus hingga ke pedalaman dan Mekah termasuk kedalam tihamah.

Dinamakan tihamah dikarenakan panasnya yang sangat terik dan anginnya yang tidak berhembus. Apabila dikatakan tahimal hurr jika panas itu sangat terik. Dan dikatakan tihmah apabila terjadi perubahan udaranya dan jika dikatakan tahima ad duhn apabila terjadi perubahan baunya (lemak) (Mu’jamul Buldan juz I hal 440)
Asy Syaukani mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “dari penduduk Tihamah” adalah Mekah dan sekitarnya. Kata itu berasal dari at tiham yaitu panas yang sangat terik dan angin yang tidak berhembus.

Dengan demikian yang dimaksud dengan tihamah adalah Mekah, tempat dilahirkan serta diutusnya Nabi Muhammad saw. Sebagaimana diketahui bahwa beliau saw dilahirkan di keluarga Bani Hasyim di Mekah pada hari senin tanggal 9 Rabiul Awwal pada permulaan tahun gajah, dan empat puluh tahun setelah kekuasaan Kisra Anusyirwan atau bertepatan dengan tanggal 20 atau 22 April tahun 571 M berdasarkan penelitian ulama terkenal, Muhammad Sulaiman al Manshurfury dan peneliti astronomi, Mahmud Basya, demikianlah disebutkan Syeikh Shafiyurrahman al Mubarakhfury dialam kitabnya ar Rahiqul Makhtum hal 35.

Adapun diutusnya beliau sebagai seorang rasul setelah ber-tahannuts yaitu menyendiri untuk beribadah dan memikirkan kebesaran Sang Pencipta alam semesta yang luar biasa ini di Gua Hira di Jabal Nur yang berjarak lebih kurang dua mil dari Mekah dan pada saat itu usia beliau adalah 40 tahun.

Doa Ma’tsur dan Ghoiru Mat’sur

Apabila dikatakan al utsroh, ats tsu’tsuroh dan ats-tsa’tsuur maka semuanya bermakna tanda-tanda yang dijadikan oleh orang-orang arab di perut onta. Apabila dikatakan atsartul ba’iir artinya matsur (diberi tanda. Pen)

Dan apabila dikatakan hadits ma’tsur maka ia adalah hadits yang diberitakan oleh manusia sebagian mereka kepada sebagian yang lain yaitu orang-orang yang datang belakangan mentransfernya dari orang-orang yang datang sebelumnya. Jika dikatakan ats-tsartul hadits maka ia adalah ma’tsur. (Lisanul Arab juz IV hal 5)

Dari makna bahasa itu kita bisa simpulkan bahwa doa yang matsur adalah doa yang merupakan warisan atau peninggalan dari Nabi Muhammad saw atau yang diajarkan oleh beliau saw, sebaliknya dengan makna ghoiru matsur.

Jumhur fuqoha berpendapat bahwa dibolehkan pada setiap doa baik untuk kepentingan duniawi maupun ukhrowi (akherat) namun berdoa dengan yang ma’tsur lebih utama daripada berdoa dengan yang ghoiru mat’sur. (al Mausu’ah al Fiqhiyah juz II hal 7161)

Dibolehkannya berdoa dengan yang ghoiru ma’tsur selama tidak berdoa dengan kemaksiatan atau memutuskan silaturahim berdasarkan hadits Nabi saw yang diriwayatkan dari Abu Hurairoh bahwasanya Nabi saw bersabda,”Doa-doa seorang hamba akan selalu dikabulkan selama ia tidak berdoa dengan dosa atau memutuskan silaturahim dan tidak tergesa-gesa.’ Lalu beliau saw ditanya,’Wahai Rasulullah apa yang dimaksud dengan tergesa-gesa.’ Beliau saw menjawab,’orang yang berkata bahwa aku telah berdoa, aku telah berdoa namun aku tidak melihat Allah mengabulkan doaku lalu ia meninggalkan berdoa.” (HR. Muslim)

Wallahu A’lamUstadz Sigit Pranowo, Lc.

Mimpi Bertemu Yesus

22 Mei 2009 pukul 6:48 PM | Ditulis dalam 1, Hadist Pilihan, Nashaihul Ibad, Tarbiyah, Tokoh Islam | 1 Komentar

Assalamu alaikum ustads,, Saat ini saya sedang menjalin hubungan dengan seorang nasrani, dengan harapan dia mau ikut agama saya. Sampai saat ini memang belum ada arah pembicaraan yg serius ke sana, tapi saya sangat menaruh harapan agar dia mau ikut saya. Setelah beberapa lama saya jalan dgnnya, saya pernah bermimpi bertemu dengan Tuhan Yesus, dalam mimpi saya, seolah-olah saya berada dalam sebuah gedung dan saya tidak bisa menemukan jln keluar dr gedung tsb, lalu seolah-olah Yesus menuntun saya untuk keluar dr gedung tsb dan akhirnya saya berhasil keluar. Yang ingin saya tanyakan,apa maksud dr mimpi saya ini ?? Saya sama sekali tidak ada niat untuk berpindah ke agama lain,tp knp saya bermimpi seperti itu, apakah ini sebuah tanda atu apa ?? Mohon penjelasannya. Terima kasih, wassalam

Wie

Jawaban
Waalaikumussalam Wr Wb Continue Reading Mimpi Bertemu Yesus…

Hanya PKS & PD yang Naik Suaranya, .. Berikut Hasil Akhir Suara Pemilu Legislatif – Manual KPU, Sebelum perubahan MK

10 Mei 2009 pukul 6:44 PM | Ditulis dalam 1, Hadist Pilihan, Nashaihul Ibad, Tarbiyah, Tokoh Islam | Tinggalkan komentar

Dua partai politik (parpol) mengalami kenaikan, yaitu Demokrat dan PKS. Lima parpol mengalami penurunan, yaitu PKB, PPP, PAN, Golkar, dan PDIP. Dua parpol baru melengang ke DPR, yakni Gerindra dan Hanura. Beberapa parpol lama terpental, yaitu PBR, PDS, PBB, dan beberapa parpol kecil lainnya. Berikut ini daftar perolehan kursi 9 parpol yang lolos Parliamentary Threshold (PT) pada pemilu legislatif 2009 dan menempatkan wakilnya di DPR [dibandingkan dengan 2004]:

Partai

Kursi DPR 2004

Kursi DPR 2009

Kursi Naik (+) / Turun (-)

Persentase Naik (+) / Turun (-)

Demokrat

55

148

+ 93

+ 169

Golkar

128

108

– 20

– 15, 6

PDIP

109

93

– 16

– 14,7

PKS

45

59

+ 14

+ 31,1

PAN

53

42

– 11

– 20,8

PPP

58

39

– 19

– 32, 8

PKB

52

26

– 26

– 50,0

Gerindra

*

30

*

*

Hanura

*

15

*

*

PBB

11

0

PBR

14

0

PDS

13

0

partai lain

12

0

J u m l a h

550

560

*

*

shodiq.com

Buah Khuldi ?

8 Mei 2009 pukul 5:32 PM | Ditulis dalam 1, Hadist Pilihan, Nashaihul Ibad, Tarbiyah, Tokoh Islam | 2 Komentar

Assalamu’ Alaikum…….

Pak Ustadz yang di rahmati alloh Swt. Mudah-mudahan pak Ustad dalam keadaan sehat Amien. Saya mau bertanya tentang buah khuldi, apakah buah khuldi itu hanya cobaan untuk nabi Adam as atau untuk semua penghuni syurga.Itu saja pertanyaan saya atas jawabannya saya ucapkan terima kasih.

Hasan Ansori

Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb

Saudara Hasan yang dimuliakan Allah swt

Ibnu katsir mengatakan bahwa Allah swt telah membolehkan untuk Adam dan istrinya Hawa memakan seluruh buah-buahan di surga kecuali satu pohon saja. Continue Reading Buah Khuldi ?…

HMI Harapkan Hidayat Jadi Tokoh yang Mengayomi

2 Mei 2009 pukul 6:33 PM | Ditulis dalam 1, Hadist Pilihan, Nashaihul Ibad, Tarbiyah, Tokoh Islam | Tinggalkan komentar

Saya difitnah Wahabi dan anti NKRI. Ini tentu saja tidak benar. Kalau Wahabi pasti anti partai politik, sementara saya mendirikan partai politik dan aktif di dalamnya.

PK-Sejahtera Online: JAKARTA– Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) memprihatinkan kondisi politik nasional belakangan ini, terutama anjloknya suara partai-partai Islam dalam Pemilu 2009 lalu. HMI juga memprihatinkan person-person tokoh politik Islam yang jauh dari karakteristik Islam, yakni sikap sederhana, teguh, cerdas, ikhlas, dan tawadhu. Karenanya HMI menaruh harapan besar kepada Hidayat Nurwahid, sebagai tokoh yang masih memiliki karakteristik pemimpin Islam untuk mengambil langkah-langkah koreksi dan konsolidasi untuk memperbaiki kondisi ini.

“Kami berharap Bapak (Hidayat Nur Wahid) bisa menjadi tokoh nasional yang bisa mengayomi seluruh elemen masyarakat Indonesia. Dengan begitu, Indonesia bisa tampil maksimal dalam menunjukkan wajah Islam yang humanis, terbuka dan dialogis,” kata Ketua PB HMI Syahrul saat  bersama pengurus HMI lainnya bersilaturrahim dengan Ketua MPR di Gedung MPR, Kamis (30/4).

Dalam kesempatan itu , Syahrul mengemukakan, dalam pembicaraan koalisi yang kini tengah dijalin, partai Islam tidak menjadi faktor determinan. Sehingga tidak bisa mengambil inisiatif yang lebih besar dalam kepemimpinan nasional.

Hidayat mengapresiasi masih ada organisasi kepemudaan yang prihatin dengan kondisi ini. Dirinya juga merasa prihatin dengan hasil pemilu yang diperoleh parpol Islam. Hidayat juga menilai, kekecewaan hasil pemilu diakibatkan kedaulatan rakyat terganggu dengan adanya money politics.

“Kondisi di lapangan memang tidak sesederhana yang dibayangkan. Advokasi, pendidikan politik yang dilakukan berbulan-bulan hilang dalam waktu semalam gara-gara money politics,” ungkap Hidayat.

Hidayat juga menyayangkan masih merebaknya budaya menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Misalnya dengan menyebarkan fitnah. Ia kembali menyampaikan dirinya termasuk pihak yang menjadi obyek penyebaran fitnah itu.

“Saya difitnah Wahabi dan anti NKRI. Ini tentu saja tidak benar. Kalau Wahabi pasti anti partai politik, sementara saya mendirikan partai politik dan aktif di dalamnya. Kemudian sebagai Ketua MPR saya juga selalu mensosialisasikan NKRI sebagai bentuk negara yang final sebagaimana termaktub dalamUUD 45,” jelas dia.

Hasil Survei

Sementara itu menanggapi hasil survei LP3ES yang menisbatkan dirinya menjadi cawapres yang paling pantas mendampingi SBY, Hidayat menyatakan survei bukan Tuhan, sehingga hasil-hasilnya harus dipercaya sebagai kebenaran mutlak. Tetapi survei juga bukan hantu yang harus ditakuti. “Survei adalah cerminan kondisi sesaat. Hasilnya bisa benar, bisa juga salah,” urai dia.

Mengapa Harus Batu ?

2 Mei 2009 pukul 6:30 PM | Ditulis dalam 1, Hadist Pilihan, Nashaihul Ibad, Tarbiyah, Tokoh Islam | Tinggalkan komentar

Assalamu’alaikum wr.wb

Pertanyaan ini sudah lama sekali mengendap dan jarang saya tanyakan, saya ingin bertanya tentang Mengapa kita sholat harus menghadap Ka’bah yang notabene nya adalah sebuah bangunan yang terbuat dari batu. Apakah hal ini ada hubungannya dengan agama terdahulu, sebab sebagaimana Kaum Kristen dulu juga memiliki sebuah Misbah dari batu untuk memuja Tuhan.

demikian pertanyaan saya ustadz. Afwan jika saya salah dalam bertanya. Continue Reading Mengapa Harus Batu ?…

Mengapa Takut pada PKS, inilah sedikit jawabannya ..

30 April 2009 pukul 11:35 AM | Ditulis dalam 1, Hadist Pilihan, Nashaihul Ibad, Tarbiyah, Tokoh Islam | 1 Komentar

Wanandi: “The possibility that SBY will join with PKS makes us nervous. There is a lot of uncertainity around this. We don’t know if we can believe them.”

Oleh: Sapto Waluyo (Direktur Eksekutif Center for Indonesian Reform)

Sebuah acara talk show di stasiun televisi berlangsung seru pasca Pemilu yang baru berlalu di Indonesia. Para pembicara berasal dari partai-partai besar peraih suara terbanyak: Anas Urbaningrum dari Partai Demokrat yang tampil sebagai pemenang pemilu, Sumarsono (Sekretaris Jenderal Partai Golongan Karya yang sempat shock karena tergeser ke ranking kedua), dan Tjahjo Kumolo (Ketua Fraksi PDI Perjuangan yang menempuh jalan oposisi). Narasumber keempat adalah seorang anak muda, doktor bidang teknik industry lulusan Graduate School of Knowledge Science, Japan Advanced Institute of Science and Technology (JAIST), Mohammad Sohibul Iman, dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Usai debat panas, Kumolo mendekati Iman dan berbisik: “Mas, bagaimana sikap teman-teman PKS terhadap PDIP? Posisi Hidayat Nur Wahid cukup berpengaruh di kalangan PDIP, dia menempati ranking kedua untuk mendampingi Ibu Mega.” Perbincangan intim itu tak pernah dilansir media manapun, meski publik mencatat Hidayat pernah diundang khusus dalam acara rapat kerja yang dihadiri pengurus dan kader PDIP se-Indonesia. Dua pekan setelah Pemilu, DPD PDIP Sulawesi Utara, yang berpenduduk mayoritas non-Muslim masih mengusulkan lima calon wakil presiden yang layak mendampingi Mega, yakni Sri Sultan Hamengkubuwono, Prabowo Subianto, Akbar Tanjung, Hidayat Nur Wahid dan Surya Paloh (Republika, 21/4). Itu bukti kedekatan partai nasionalis sekuler dengan Islam, lalu mengapa selepas pemilu yang aman dan lancar, tersebar rumor sistematik bahwa partai Islam radikal (PKS) menjadi ancaman keutuhan nasional Indonesia?

Partai Demokrat dan PKS sekali lagi membuat kejutan. Dalam Pemilu 2004, partai pimpinan Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Ketua Dewan Pembina itu, hanya menempati urutan kelima dengan perolehan suara 7,5%. Sekarang mereka menempati tempat teratas dengan raihan suara lebih dari 20,6% menurut perhitungan suara sementara. Sementara PKS yang menempati ranking keenam pada Pemilu 2004 dengan suara 7,3% memang tak bertambah secara drastis, diperkirakan hanya meraih 8,2% suara, menurut tabulasi sementara Komisi Pemilihan Umum. Tapi, PKS dengan posisi keempat dalam pentas nasional menjadi Partai Islam terbesar di Indonesia. Inilah yang menjadi sumber kontroversi bagi sebagian pengamat Barat.

Bila kemenangan Partai Demokrat disambut meriah oleh media Barat, sehingga majalah Time berencana untuk memasukkan sosok SBY sebagai satu di antara 100 tokoh berpengaruh di dunia, maka kemunculan PKS dinilai negatif oleh penulis semisal Sadanand Dhume. Dalam Wall Street Journal Asia (15/4), Dhume menyatakan: “The most dramatic example of political Islam’s diminished appeal is the tepid performance of the Prosperous Justice Party (PKS), Indonesia’s version of the Muslim Brotherhood. PKS seeks to order society and the state according to the medieval precepts enshrined in shariah law.” Pandangan serupa diungkapkan Sara Webb dan Sunanda Creagh yang mengutip kekhawatiran pengusaha keturunan Cina, Sofjan Wanandi dan pengamat beraliran Muslim liberal, Muhammad Guntur Romli (Reuters, 26/4).

Wanandi, pengusaha sekaligus pendiri Centre for Strategic and International Studies (CSIS), berkata terus terang: “The possibility that SBY will join with PKS makes us nervous. There is a lot of uncertainity around this. We don’t know if we can believe them.” Sedangkan, Romli menegaskan: “PKS have a conservative ideology but are portraying themselves as open and moderate because they are also pragmatic.” Kesangsian Wanandi dan Romli justru menimbulkan pertanyaan, karena mereka mungkin sudah membaca Falsafah Dasar Perjuangan dan Platform Kebijakan Pembangunan yang dikeluarkan PKS setahun sebelum penyelenggaraan pemilu. Buku setebal 650 halaman itu menjelaskan segala langkah yang sudah, sedang dan akan dilakukan PKS untuk mewujudkan masyarakat madani yang maju dan sejahtera di Indonesia. Tak ada sedikitpun disebut ide Negara teokratis atau diskriminasi terhadap kaum minoritas.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyediakan waktu khusus untuk menyimak platform PKS setebal 4,5 centimeter itu dan berkomentar, “Isinya cukup komprehensif seperti Garis-garis Besar Haluan Negara atau Rencana Pembangunan Jangka Panjang yang disusun pemerintah meliputi seluruh aspek kehidupan Negara modern.” Prof. Jimly Ashiddiqie, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, menilai inisiatif PKS merupakan tradisi baru dalam dunia politik agar setiap partai menjelaskan agendanya ke hadapan publik secara transparan dan bertanggung-jawab. Sementara Prof. Azyumardi Azra, mantan Rektor Universitas Islam Negeri, memberikan apresiasi khusus karena PKS berani melakukan obyektivikasi terhadap nilai-nilai Islam dalam konteks masyarakat Indonesia kontemporer. Siapa yang harus kita percaya saat ini, pengusaha dan pengamat yang gelisah karena kepentingan pribadinya mungkin terhambat atau menteri dan pakar yang menginginkan perbaikan dalam kualitas pemerintahan di masa datang?

Kehadiran partai Islam memang kerap memancing perhatian, tak hanya di Indonesia. Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) di Turki yang secara harfiyah menyebut diri berideologi sekuler ternyata masih dicap sebagai kelanjutan dari partai fundamentalis Islam. Gerakan Hamas yang secara patriotik membuktikan diri berjuang sepenuhnya untuk kemerdekaaan nasional Palestina disalahpersepsikan sebagai ancaman perdamaian dunia. Perhatian publik semakin kritis setelah partai Islam berhasil memenangkan pemilu yang demokratis, dan berpeluang menjalankan pemerintahan. Stereotipe buruk kemudian disebarkan untuk menggambarkan partai Islam seperti virus flu yang berbahaya, dengan merujuk pengalaman di Aljazair, Sudan atau Pakistan.

Tapi, semua insinuasi itu tak berlaku di Indonesia karena partai Islam dan organisasi sosial-politik Islam yang lebih luas telah berurat-akar dalam sejarah dan memberi kontribusi kongkrit dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Hanya orang bodoh yang tak tahu bahwa: organisasi modern yang pertama lahir di Indonesia adalah Serikat Dagang Islam (1905), partai politik yang pertama berdiri dan bersikap nonkooperasi terhadap penjajah Belanda adalah Syarikat Islam (1911), organisasi pemuda yang mendorong pertemuan lintas etnik dan daerah ialah Jong Islamienten Bond hingga terselenggaranya Sumpah Pemuda (1928), mayoritas perumus konstitusi dan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia (1945) adalah tokoh Islam, dan penyelamat Negara kesatuan Indonesia dari ancaman komunisme (1966) adalah organisasi pemuda dan mahasiswa Muslim nasionalis. Kekuatan Islam juga sangat berperan dalam mengusung gerakan reformasi di tahun 1998, tanpa meremehkan peran kelompok agama/ideologi lain.

Tak ada yang perlu ditakuti dari kiprah Partai Islam di masa lalu dan masa akan datang, termasuk dalam membentuk pemerintahan baru di Indonesia. Partai Islam memiliki agenda yang jelas untuk memberantas korupsi melalui reformasi birokrasi, meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan menekan angka kemiskinan dan pengangguran, sehingga semangat “jihad” yang sering disalahtafsirkan itu, dalam konteks Indonesia modern bisa bermakna: perang melawan korupsi, kemiskinan dan pengangguran. Jika ada kelompok yang takut atau memusuhi Partai Islam, maka perlu diselidiki apakah mereka memiliki komitmen yang sama untuk membasmi korupsi, kemiskinan dan pengangguran? Membatasi, apalagi mengisolasi Partai Islam, hanya akan menambah panjang persoalan yang berkecamuk di negeri mayoritas Muslim seperti Indonesia.

Partai Islam tak hanya mampu meraih dukungan yang cukup luas dalam pemilu, bahkan tokoh-tokohnya yang berusia relatif muda mulai mendapat kepercayaan pemilih. Exit poll yang digelar Lembaga Pengkajian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) pada tanggal 9 April menunjukkan bahwa pasangan Yudhoyono-Hidayat meraih suara 20,8 persen, mengungguli Yudhoyono-Jusuf Kalla yang meraih 16,3 persen, dan Yudhoyono-Akbar Tandjung yang hanya memperoleh 5,4 persen dukungan responden. Jika fakta elektabilitas yang tinggi ini masih diingkari, maka kecurigaan terhadap Partai Islam sungguh tak berdasar dan melawan kehendak rakyat yang menjadi inti demokrasi.

*) Center for Indonesian Reform (CIR), Gedung PP Plaza Lantai 3, Jalan TB Simatupang No. 57, Jakarta Timur Email: sapto.waluyo@gmail.com

Iblis dan Surga Nabi Adam

30 April 2009 pukul 10:37 AM | Ditulis dalam 1, Hadist Pilihan, Nashaihul Ibad, Tarbiyah, Tokoh Islam | Tinggalkan komentar

Assalammualaikum Pak Ustad,

Hingga kini, masih ada pertanyaan yang masih menyelam di benak saya. Dalam sebuah kisah tentang Nabi Adam dijelaskan bahwa Iblis saat itu telah terusir dari surga. Ketika Hawa digoda Iblis untuk memakan buah khuldi (yang dilarang Allah untuk dimakan), logikanya Iblis berada di surga. Padahal, dijelaskan bahwa Iblis telah terusir dari surga. Mohon penjelasan dan pencerahannya. Continue Reading Iblis dan Surga Nabi Adam…

Iblis dan Orang Ikhlas

30 April 2009 pukul 10:24 AM | Ditulis dalam 1, Hadist Pilihan, Nashaihul Ibad, Tarbiyah, Tokoh Islam | Tinggalkan komentar

Assalamuálaikum,,,

alhamdulillahi robbil alamin’… semoga rahmat dan barokah tetap tercurah atas Rasulullah saw, beserta para keluarganya, para shahabatnya dan kepada kita umatnya hingga hari kiamat.

ustad yang di rahmati Allah, kami mau bertanya mengenai orang yg ikhlas.

sebagaimana dikisahkan dalam Al-Quran, ketika Allah  mengusir iblis dari surga, ketika itu iblis bersumpah akan menyesatkan umat manusia sampai hari kiamat. Namun atas pengakuan iblis sendiri bahwa hanya orang2 yg ikhlas saja yg tidak dapat dia sesatkan. Continue Reading Iblis dan Orang Ikhlas…

SBY-HNW Didukung Para Kiai Karismatik

24 April 2009 pukul 9:44 PM | Ditulis dalam 1, Download, Hadist Pilihan, Nashaihul Ibad, Tarbiyah, Tokoh Islam | 1 Komentar

“Terbuka peluang untuk bentuk koalisi nasionalis-relijius Partai Demokrat dengan PKS, PAN plus PKB,”

PK-Sejahtera Online: Rencana Golkar pisah dg Partai Demokrat disambut gembira kiai Madura. “Terbuka peluang untuk bentuk koalisi nasionalis-relijius Partai Demokrat dengan PKS, PAN plus PKB,” ujar KH Ahmad Baehaki, Pimpinan Pondok Pesantren Haramain Pantura yang menjadi anggota Shilaturrahim Ulama (SHILU).

SHILU Madura sendiri beranggotakan dua ratus kiai karismatik. Antara lain KH. Ali Dhofir Pimpinan ponpes Al-Mursid Aram2, KH.Bustomi Barza Pimpinan ponpes Assyafiiyah Tamberu, KH. Qomaruddin Pimpinan ponpes Alfalah, KH. Abd Mugni Sam’an Pimpinan ponpes Mambaul’ulum 2 ponjanan, dan lain lain.

Dlm pertemuan ahad (19/04) para kiai mendukung pencalonan Hidayat Nur Wahid sebagai Cawapres disandingkan dengan SBY. Ini pasangan pas dengan elektabilitas tinggi.

“Hatta Rajasa atau Soetrisno Bachir bisa jadi Menko. Tokoh PKB bisa ambil peran penting eksekutf, jangan terfokus RI 1 & 2. Utk menang pilpres butuh popular vote, untuk efektivits pemerintahan perlu parliamentry seats cukup” ujar sapto waluyo, anggota MPP PKS yg ditugaskan di dapil Madura

Sahabatku, Berperasangka baiklah pada Allah

24 April 2009 pukul 5:35 PM | Ditulis dalam 1, Download, Hadist Pilihan, Nashaihul Ibad, Tarbiyah, Tokoh Islam | Tinggalkan komentar

Sahabatku dengarlah kisahku, ..

Pernah ku pinta kepada Allah setangkai bunga segar nan indah akan tetapi Dia berikan aku kaktus berduri, Aku meminta pada Allah hewan nan cantik nan menggemaskan akan tetapi Dia berikan ulat berbulu kepadaku, Aku sempat sedih dan kecewa pada Nya, Protes .. betapa tidak adilnya Dia kepadaku ..

Kemudian tak begitu lama ku sadari .. kaktus itu berbunga sangat indah dan cantik. Kemudian ulat yang ada pada kaktuspun tumbuh berubah menjadi kupu kupu yang menarik, sangat anggun dan menawan menyenangkan di pandang mata.

Sahabatku …

Itulah janji allah .. indah pada waktu Nya, jika Dia tidak memberikan apa yang kita harapkan, maka tetaplah terus berharap dan berperasangka baik kepadanya, akan tetapi jika harapan itu tidak dapat yakinlah sesungguhnya Dia akan memberikan pengganti yang lebih baik, karena semua dan harapan yang baik pastilah ia kabulkan “udduuni astajib lakum”,

Sahabatku ..

Sesungguhnya apa yang kita butuhkan terkadang bukanlah apa yang kita inginkan, Ia tahu itu dengan pasti sesungguhnya yang terbaik untuk ummatnya, meski kadang sedih dan mengecewakan karena tidak seperti yang kita harapkan, akan tetapi jauh di atas segalanya, Dia sesungguhnya merajut dan memberikan yang terbaik untuk kita dan kehidupan ini ..

Berpersangkalah baik kepada Allah .. dan teruslah berharap dalam doa ..

Hikmah Catatan Harian Abiwin.

Hukum Membaca Al Matsurat

20 April 2009 pukul 8:56 PM | Ditulis dalam 1, Download, Hadist Pilihan, Tarbiyah, Tokoh Islam | 3 Komentar

Assalamu alaikum wr.wb

Pak Ustads kami mau menanyakan tentang membaca Al-Matsurat oleh hasan Al Banna berdasarkan hukum islam dan siapakah sebenarnya Hasal Al Banna ini?

terima kasih Pak Ustads

Jawaban
Waalaikumussalam Wr Wb

Hukum Membaca Al Ma’tsurat

Al ma’tsurat merupakan kumpulan dzikir dan doa yang dikumpulkan oleh Imam Hasan Al Banna yang diambil dari hadits-hadits Nabi saw untuk dibaca oleh setiap anggota jama’ah Ikhwanul Muslimin khususnya atau seluruh kaum muslimin pada umumnya agar senantiasa mengingat Allah swt dan berada dalam ketaatan kepada-Nya.

Imam Al Banna juga meminta agar al ma’tsurat senantiasa dibaca pada saat pagi, mulai dari waktu fajar hingga zhuhur dan pada saat petang mulai dari waktu ashar hingga setelah isya, baik secara berjama’ah maupun sendirian. Beliau mengatakan,”Siapa yang tidak sempat membaca seluruhnya hendaklah dia membaca sebagiannya sehingga kelak ia tidak terbiasa melalaikan dan meninggalkannya.”

Imam Al Banna juga mengingatkan setiap anggotanya agar senantiasa menyadari pentingnya mengingat Allah di setiap waktu dan keadaan, keutamaan-keutamaannya dan memperhatikan adab-adab didalam berdzikir.

Al Banna mengatakan,”Apabila engkau mengetahui, wahai akh yang mulia, maka janganlah engkau merasa aneh jika seorang muslim senantiasa mengingat Allah disetiap keadaannya, mewarisi Nabi saw—dialah sebaik-baik makhluk—didalam dzikir, doa, syukur, tasbih dan tahmid disetiap keadaan baik yang kecil, besar maupun yang dianggap remeh. Sesungguhnya Nabi saw senantiasa dzikrullah disetiap keadaannya maka tidaklah aneh jika kami meminta kepada Ikhwanul Muslimin untuk meniru sunnah Nabi mereka dan berqudwah kepadanya serta menghafalkan dzikir-dzikir ini dan mendekatkan dirinya kepada Allah Yang Maha Agung lagi Maha Pengampun dengannya, sebagaimana firman Allah swt :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Artinya : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab : 21)

Tentang dzikir secara berjama’ah, Imam Al Banna menyebutkan hadits yang diriwayatkan Imam Muslim,”Tidaklah suatu kaum duduk-duduk untuk berdzikrullah kecuali para malaikat mengelilingi mereka, dipayungi dengan rahmat, turun ketenangan kepada mereka dan Allah menyebut-nybut mereka kepada siapa saja yang berada disisi-Nya.”

Kalian akan banyak menjumpai hadits-hadits yang menunjukkan bahwa Nabi saw keluar untuk shalat berjama’ah sementara mereka sedang berdzikrullah di masjid lalu beliau saw memberikan kabar gembira kepada mereka dan tidak melarang mereka.

Berjama’ah didalam ketaatan adalah sesuatu yang disukai terlebih lagi apabila didalamnya banyak mengandung manfaat, seperti menyatukan hati, menguatkan ikatan, memanfaatkan waktu untuk sesuatu yang bermanfaat, mengajarkan orang-orang awam yang belum baik dalam belajar dan mengumandangkan syiar-syiar Allah swt.

Memang sesungguhnya berjama’ah didalam dzikir dilarang apabila didalamnya terdapat hal-hal yang dilarang syariat, seperti mengganggu orang shalat, senda gurau, tertawa, menyelewengkan lafalnya, mengungguli bacaan yang lain atau sejenisnya, dan jika terjadi seperti itu maka berjama’ah didalam berdzikir tidaklah diperbolehkan bukan pada berjama’ahnya itu sendiri, khususnya apabila dzikrullah secara berjama’ah itu dengan menggunakan lafal-lafal dzikir yang ma’tsur lagi shahih sebagaimana didalam wazhifah (al matsurat) ini.

Alangkah baiknya jika Ikhwan senantiasa membacanya disetiap pagi dan petang di tempat-tempat berkumpul mereka ataupun di sebuah masjid dengan menghindari hal-hal yang dimakruhkan. Dan siapa saja yang kehilangan berjama’ah didalam membacanya maka hendaklah dia membacanya secara sendirian dan janganlah meremehkannya. (Majmu’atur Rosail hal 519 – 522)

Membaca al ma’tsurat atau kumpulan-kumpulan dzikir lainnya baik secara berjama’ah maupun sendirian diperbolehkan selama didalam pembacaannya tidak mengandung hal-hal yang dilarang oleh syari’at, sebagaimana disebutkan didalam sebuh hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Tirmidzi, Nasai dari hadits Muawiyah bin Abu Sofyan ra, dia berkata,”Sesungguhnya Nabi saw mendatangi halaqah para sahabat, dan berkata,”apa yang menjadikan kalian duduk-duduk?’ mereka mengatakan,’Kami duduk untuk berdzikrullah dan memuji-Nya terhadap atas segala petunjuk-Nya kepada kami kepada islam dan segala nikmat-Nya kepada kami… sehingga beliau bersabda,’Telah datang Jibril menemuiku dan memberitahuku bahwa Allah swt membanggakan kalian dihadapan para malaikat.”

Siapakah Imam Hasan Al Banna?

Jika kita membicarakan sosok Hasan Al Banna maka kita tidak bisa melepaskannya dari Jama’ah al Ikhwanul Muslimin, karena dia adalah pendiri dan tokoh sentral jama’ah ini.

Hasan Al Banna dilahirkan di kota al Mahmudiyah di Propinsi al Buhairoh, Mesir pada tahun 1906. Ayahnya adalah seorang ulama yang bernama Ahmad Abdurrahman Al Banna.

Di usia 8 th Al Banna disekolahkan di Madrasah Diniyah Ar Rasyad dan pada usianya yang menginjak 12 tahun dia berhasil menghafal setengah Al Qur’an. Bersama teman-teman SD nya dia mendirikan “Perkumpulan Akhlak dan Adab” kemudian “Perkumpulan Mencegah Hal-hal yang Diharamkan”.

Pada usia belum genap 14 tahun ia telah menghafal 2/3 Al Qur’an dan masuk Madrasah Mu’allimin di Damanhur. Pada usia 16 tahun dia masuk Sekolah Tinggi Darul ‘Ulum dan menyelesaikannya dengan mendapatkan ijazah diploma pada usia 20 tahun di bulan Juni 1927. Setelah itu dia memutuskan untuk menjadi seorang guru di Ismailiyah.

Berbagai penurunan kualitas umat, baik dalam skala Mesir maupun internasional bahkan cenderung menuju kehancuran, seperti berbagai kerusakan akidah, dekadensi moral, keadaan Turki setelah PD I yang berada dibawah kekuatan Inggris dan menjadikannya sebuah negara sekuler serta bercokolnya penjajah di bumi Mesir mendorongnya untuk membentuk al Ikhwanul Muslimin pada bulan Maret 1928.

Setelah mendirikan jama’ah Al Ikhwanul Muslimin di Ismailiyah, Hasan Al Banna mulai mendirikan masjid dan tempat pertemuan al Ikhwan, membangun Ma’had Hira al Islamiy, sekolah untuk ibu-ibu kaum mukminin yang menjadikan da’wah Ikhwan mulai dikenal dan mendapatkan dukungan dari masyarakat.

Pada tahun 1933, Hasan Al Banna pindah ke Kairo yang kepindahannya ini menjadikan berpindah pula Kantor Pusat al Ikhwanul Muslimin kesana. Sejak di Kairo, beliau selalu melakukan perjalanan ke berbagai tempat untuk melakukan pembinaan para anggota ikhwan yang baru tentang akhlak berda’wah dan membekali mereka agar memiliki ketahanan didalam mengemban beban-bebannya. Pekerjaan ini terus dilakukannya hingga jama’ah al Ikhwanul Muslimin memenuhi seluruh tempat di Mesir.

Hal itu pun didukung dengan berbagai strategi da’wah yang dipusatkan di Kairo diantaranya :

1. Berbagai ceramah, ta’lim di masjid-masjid.
2. Menerbitkan Risalah “al Mursyid al ‘Am”, majalah pekanan “al Ikhwanul Muslimin” kemudian majalah “An Nadzir”
3. Mengeluarkan surat-surat dan buletin.
4. Membentuk syu’bah-syu’bah (cabang-cabang) di dan luar Kairo.
5. Membentuk organisasi kepanduan & olah raga.
6. Memfokuskan da’wah ke kampus dan sekolah.
7. Mu’tamar dan dauroh di Kairo & kota-kota lain.
8. Menghidupkan kembali syi’ar-syi’ar islam di Kairo dan kota-kota lain.
9. Munashoroh negeri-negeri islam terutama Palestina.
10. Mengambil peran dalam perbaikan politik dan sosial.
11. Ikut serta dalam memerangi kristenisasi.
12. Mengingatkan kelalaian penguasa terhadap islam.

Hal itu menjadikan pemerintah Kolonial Inggris geram sehingga mereka membuat langkah-langkah untuk memadamkan cahaya da’wah dengan melakukan :

1. Menjauhkan para pendukung Hasan Al Banna dari semua kursi pemerintahan di Mesir.
2. Memutasikan Al Banna dari pekerjaannya di Kairo ke Qana.

Hingga akhirnya al Ikhwanul Muslimin dibubarkan untuk pertama kalinya pada tahun 1942 dan menutup seluruh cabang-cabangnya.

Pada Oktober 1946 mulailah terjadi pegolakan di Mesir yang ditandai dengan berbagai demonstrasi mahasiswa yang dipelopori oleh para mahasiswa Ikhwan. Demonstrasi ini terus berlangsung hingga pada 9 Februari 1947 beberapa mahasiswa Ikhwan menjadi syuhada dalam sebuah Long March menuju istana Abidain

Pengawasan pemerintah terhadap para aktivis ikhwan pun diperketat sejak bulan Juni hingga Agustus 1947. Dan siapapun yang dianggap mencurigakan dan berbahaya akan ditangkap, dan puncaknya adalah pada bulan September 1947 terjadi penangkapan besar-besaran terhadap anggota ikhwan oleh Pemerintahan Ismail Shidqi. Tidak kurang dari 40.000 anggota ikhwan ditangkap dan dipenjarakan. Tindakan sewenang-wenang ini pun berlanjut dengan penangkapan para tokoh Ikhwan pada tanggal 16 November 1947 yang menjadikan kerusuhan di Mesir semakin meluas. Puncak dari itu adalah jatuhnya Ismail Shidqi pada tanggal 8 Desember 1947.

Permasalahan Mesir pun dibawa ke dewan Keamanan PBB seperti yang diusulkan ikhwan. Pada kesempatan ini ikhwan pun mengirimkan utusannya yang bernama Mustafa Mukmin ke sidang Dewan Keamanan PBB namun beliau diusir ke luar gedung sehingga dia berpidato di luar gedung Dewan yang cukup menyita banyak perhatian orang-orang yang melintas, termasuk para imigran dari Asia dan Afrika. Hasan Al Banna pun mengirimkan surat ke Dewan Keamanan PBB agar Inggris ditarik dari Mesir dan menyatukan Wadi an Nil.

Berbagai konspirasi internasional pun terus dilakukan oleh negara-negara besar, seperti Amerika Serikat, Inggris dan Perancis yang mendesak pembubaran al Ikhwanul Muslimin untuk yang kedua kalinya. Sehingga pada 8 Desember 1948 ada sebuah instruksi militer tentang pembubaran Jama’ah al Ikhwanul Muslimin dan menyita seluruh aset-asetnya.

Sejak itu kembali terjadi berbagai penangkapan terhadap banyak kader dan tokoh-tokoh ikhwan hingga puncaknya adalah penembakan Imam Hasan Al Banna, pada tanggal 11 Februari 1949 di depan kantor Asy Syubbanul Muslimun oleh segerombolan orang yang mengenai lambung dan tangan beliau.

Al Banna sempat dibawa ke RS al Qashrul Aini dan ketika seorang dokter muslim yang bernama Abdullah al Katib ingin memeriksanya maka ia pun dilarang. Hingga pada malam harinya, beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir,

Pada pukul 01.00 dini hari (12 Februari 1949) datang serombongan orang menemui ayahnya dan memberitahukan kematiannya dan mengatakan kepadanya bahwa jenazah Hasan Al Banna bisa diambil dengan syarat tidak ada iring-iringan pelepasan jenazah dan pemasangan tenda di rumahnya.

Pada keesokan harinya, ayahnya sendiri dengan ditemani oleh Mukram dan beberapa saudara perempuannya mengurusi jenazahnya serta mengantarkannya ke pemakaman Imam Syfi’i dengan dikawal oleh tank-tank berlapis baja. (dari berbagai sumber)

Demikianlah sejarah ringkas kehidupan seorang muassis (pendiri) sebuah jama’ah besar yang da’wahnya hingga hari ini terus menyinari banyak tempat di bumi. Kehidupan seorang yang menghabiskan waktunya untuk umat dan da’wah yang itu semua dibuktikan dengan gugurnya beliau ditangan orang-orang zhalim yang menghendaki cahaya kebenaran ini padam namun mereka lupa bahwa da’wah ini bukanlah milik Hasan Al Banna atau para pengikutnya yang setiap saat bisa mengalami kematian dan digantikan oleh generasi berikutnya. Sesungguhnya da’wah ini adalah milik Allah Yang Maha Agung lagi Maha Perkasa, Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin, firman Allah swt :

يُرِيدُونَ لِيُطْفِؤُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

Artinya : “Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya”. (QS. Ash Shaff : 8)

Wallahu A’lam

PKS Masih berada di Posisi 4 Nasional dengan 11,3% Suara

20 April 2009 pukul 3:15 PM | Ditulis dalam 1, Download, Hadist Pilihan, Nashaihul Ibad, Tarbiyah, Tokoh Islam | Tinggalkan komentar

Hasil Sementara DPR RI

Data dari: 94.737 dari 560 ribu TPS, Jumlah Pemilih : 22.092.172 dari 172 juta


608828
3,1%

893109
4,6%

2189805
11,3%

1023046
5,3%

778190
4,0%

893573
4,6%

2228064
11,4%

2373626
12,2%

5078591
26,1%

Kembali Sebagai Juara di ASIA Tengah, di Negeri Cendekiawan Muslim, PKS Berjaya di Islamabad, Pakistan

20 April 2009 pukul 3:11 PM | Ditulis dalam 1, Download, Hadist Pilihan, Nashaihul Ibad, Tarbiyah, Tokoh Islam | Tinggalkan komentar

Rekapitulasi hasil pemilu yang dilakukan di Aula KBRI Islamabad cukup seru diiringi sorak dan tepuk tangan para pendukung partai yang perolehannya disebut oleh petugas penghitung suara.

Jakarta – Panitia Pemilu Luar Negeri (PPLN) Islamabad, Pakistan, telah menyelesaikan penghitungan suara. Hasilnya PKS berjaya dengan perolehan 106 suara dari 240 pemilih atau 44,2% dari total suara.

Sedanglan Partai Demokrat menduduki posisi kedua dengan perolehan 47 suara atau 19,6%.

“Partai-partai lain yang berhasil mendapatkan suara di Islamabad adalah PPP 13 suara, Golkar 12 suara, PAN 10 suara, PKB dan Hanura masing-masing 5 suara, PKNU 4 suara, PKDI dan Gerindra masing-masing 2 suara,” ujar Anggota PPLN Islamabad, Muhammad Niam Sutaman dalam keterangan pers yang diterima redaksi detikcom, Sabtu (19/4/2009).

Menurut Niam, PKPI, PPI, PMB, Pelopor, Patriot dan PPNU sama-sama mendapat 1 suara. Sedangkan tercatat 18 suara tidak sah.

Rekapitulasi hasil pemilu yang dilakukan di Aula KBRI Islamabad cukup seru diiringi sorak dan tepuk tangan para pendukung partai yang perolehannya disebut oleh petugas penghitung suara.

Tepuk tangan berkepanjangan ketika partai PKS dan Demokrat mendapatkan suara. PKS adalah satu-satunya partai yang mempunyai kepengurusan di Islamabad.

Rekapitulasi suara di Islamabad dihadiri oleh Duta Besar RI untuk Pakistan Ishak Latuconsina, sejumlah masyarakat dan mahasiswa yang tinggal di Ibu kota negara Islam tersebut.

PKS Best of The Best di QATAR, Juara Timur Tengah, Negeri para Ulama

20 April 2009 pukul 3:07 PM | Ditulis dalam 1, Download, Hadist Pilihan, Nashaihul Ibad, Tarbiyah, Tokoh Islam | Tinggalkan komentar

Hasil pemilihan umum di Qatar menunjukkan Partai Keadilan Sejahtera masih yang teratas dibanding partai-partai yang lain. Dari data penghitungan di empat wilayah, PKS mendapatkan suara sejumlah 1264 dari total 2105 suara sah, atau sekitar 62%.

Posisi kedua ditempati oleh Partai Demokrat sebanyak 282 (13.8%), disusul oleh PDIP dengan sejumlah 7.04% suara. Kemudian Partai Golkar, PAN dan lainnya di kisaran kurang dari 3%.

Persentasi suara PKS ini mengalami kenaikan yang signifikan dibanding dengan pemilu tahun 2004. Waktu itu PKS mengantongi 50% suara. PKS unggul di semua wilayah pemilihan di Qatar. Di wilayah KBRI Doha PKS mendapatkan 65,9% di susul Demokrat 11.5%. Di Messaeed dan Wakra PKS menang telak dengan lebih dari 70% suara.

Di Al Khor, kawasan Industri yang dihuni warga Indonesia yang bekerja di perusahaan Oil dan Gas di Qatar, PKS menadaptkan suara 58.67% dan PD 19.06%. Di Dukhan PKS 41.79% dan PD 19.90%.

Yang sangat menarik, saat pencontrengan di TPS KBRI Doha juga diadakan bazaar ‘Selera Indonesia’. Cukuplah untuk pelipur rindu warga Indonesia yang kangen dengan masakan dan jananan khas Indonesia. Selesai nyontreng, kita bisa langsung bergegas ke bazaar dan menikmati mie ayam, bakso, batagor, kue jajanan khas Indonsia dan es campur. Asik kan?

Kemenangan PKS di Qatar merupakan pengulangan sejarah dua pemilu sebelumnya yang selalu dimenangkan oleh PKS. Ustad Suripan, ketua PKS Qatar, menegaskan ini merupakan kemenangan seluruh kader dan simpatisan yang telah berusaha seoptimal mungkin. “Terimakasih kepada masyarakat Indonesia di Qatar yang telah memberikan kepercayaannya kepada

PKS.”

Mucharun Sumartono, mucharun_s@yahoo.com

Saatnya Membuktikan, .. !! .. Aktifkan DPRa mu ya Ikhwahtifillah .., dalam hammasahmu, jadilah Insan berguna !! ..

19 April 2009 pukul 9:11 AM | Ditulis dalam 1, Download, Hadist Pilihan, Nashaihul Ibad, Tarbiyah, Tokoh Islam | 1 Komentar
PK Sejahtera

PK Sejahtera

Akhirnya Golkar lewati PKS, di 11.3% Suara atau setara 2 juta suara hingga Saatini

19 April 2009 pukul 9:02 AM | Ditulis dalam 1, Download, Hadist Pilihan, Nashaihul Ibad, Tarbiyah, Tokoh Islam | Tinggalkan komentar

Hasil Sementara DPR RI
Data dari: 88.925 TPS dari 560 Ribuan TPS

Total Suara terdaftar : 28.939.246 Kehadiran : 21.154.730 Suara Sah : 18.614.838


591331
3,2%

866506
4,7%

2099527
11,3%

1000960
5,4%

768275
4,1%

819305
4,4%

2109404
11,3%

2334595
12,5%

4853625
26,1%
Laman Berikutnya »


Entries dan komentar feeds.